Minggu, 10 Agustus 2014

Apa yang Demokratis dari Sosialisme

Oleh Rizal Assalam, mahasiswa Ilmu Politik UI

Pernah dimuat di jurnal IndoPROGRESS rubrik Left Book Review. Dimuat ulang untuk tujuan pendidikan dan propaganda

Judul Buku : Sosialisme Sekarang Juga
Penulis : Michael A. Lebowitz
Penerbit : Resist Book
Tahun : 2009
Tebal : 247 halaman













Imagine no possessions
I wonder if you can
No need for greed or hunger
A brotherhood of man
Imagine all the people
Sharing all the world...
(John Lennon - Imagine)

Apa Yang Terjadi Saat Ini

Sebagai mahasiswa yang sedang berjuang menuju kelulusan, saya membayangkan betapa beratnya kehidupan kelak setelah lulus nanti dalam menjalani rutinitas sebagai pekerja. Membayangkan betapa menyebalkannya jalanan yang serba macet, entah itu berangkat ke kantor atau pulang. Hasrat untuk beristirahat ketika sampai di rumah melebihi keinginan untuk melakukan kegiatan yang lain: sekedar membaca buku, berekreasi, bercengkerama dengan kerabat atau menelpon pacar misalnya. Sementara waktu yang tersisa untuk melakukan kegiatan di luar pekerjaan hanyalah Sabtu-Minggu. Itu pun tidak kita nikmati sendirian. Melainkan juga harus berbagi ruang dengan sesama pekerja lainnya—sebagaimana yang terlihat pada jalanan Sabtu-Minggu yang (tetap) macet atau berbagai mall yang penuh dengan Rakyat Pekerja.

Kiranya saya mulai mengerti apa yang dirasakan oleh buruh ketika menyerukan berbagai tuntutannya, misalnya soal pengurangan jam kerja. Bahwa apa yang terjadi pada diri segenap rakyat pekerja adalah suatu keterasingan (alienasi). Keterasingan dalam hakikat kita sebagai manusia yang kaya. ‘Kaya’ yang dimaksud di sini bukan dalam pengertian berkelimpahan materi, melainkan merujuk pada segenap potensi-potensi yang ada dalam diri manusia. Potensi yang dimaksud sesederhana yang dijelaskan diawal, yaitu misalnya untuk mengembangkan kapasitas diri melalui beragam bentuk edukasi.[1] Bukankah kita sering mengeluhkan “ah gue nggak punya waktu. Besok gue kerja”?

Pertanyaan yang kemudian muncul dalam benak kita adalah, mengapa keterasingan itu bisa terjadi? Bagaimana solusi untuk keluar dari keterasingan itu? Dalam konteks pertanyaan inilah uraian Michael A. Lebowitz mengenai sosialisme dalam buku Sosialisme Sekarang Juga menjadi relevan untuk dipelajari.[2] Uraian Lebowitz dapat menjawab pertanyaan soal keterasingan tersebut, bahwa pada dasarnya keterasingan terjadi sebagai konsekuensi logis dari kapitalisme—sistem produksi dengan orientasi pada akumulasi kekayaan individu-individu (dalam kata lain, laba) yang mengabaikan kebutuhan-kebutuhan manusia. Sementara jawaban atas permasalahan tersebut tidak lain adalah pelampauan terhadap kapitalisme: sosialisme.

Dalam pembacaan saya, poin utama yang menarik dalam uraian Lebowitz mengenai sosialisme adalah bahwa ia menunjukkan—meskipun tidak menyatakan secara langsung—bahwa sejatinya sosialisme merupakan perwujudan dari tatanan masyarakat yang demokratis, atau dalam kata lain, sosialisme adalah demokrasi itu sendiri. Tatanan masyarakat yang demokratis yang dimaksud disini sesederhana pada pengertian yang kita pahami pada umumnya, yaitu demokrasi dari rakyat, untuk rakyat, dan oleh rakyat. Dalam hal ini, premis-premis umum mengenai demokrasi seperti keterlibatan dan partisipasi rakyat dalam proses pengambilan keputusan, prinsip kesetaraan, dan kehidupan sosial yang egaliter. Dalam demokrasi yang kita pahami dalam bahasa sehari-hari, rakyat tidak hanya menjadi objek kekuasaan, melainkan juga sebagai subjek atau pelaku aktif kekuasaan. Gambaran umum mengenai aspek normatif demokrasi tersebut akan terlihat ketika masuk pada pembahasan Lebowitz mengenai visi sosialisme dan juga perwujudannya—dengan merujuk pada studi kasus Venezuela.[3]

Hasil pembacaan saya terhadap uraian Lebowitz mengenai sosialisme yang demikian mengantarkan saya untuk menunjukkan bagaimana sosialisme berjalan dalam praktek yang demokratis pada tinjauan buku Sosialisme Sekarang Juga dalam esay ini. Hal ini sebagaimana ditunjukkan oleh Lebowitz dalam bukunya bahwa sosialisme pada dasarnya hadir dalam praktek kehidupan demokratis yang paling sederhana. Dengan mengacu pada praktek di Venezuela, ia menyimpulkan bahwa sosialisme merupakan suatu keniscayaan ketika kita menengok kembali pada hakikat manusia sebagai makhluk sosial, yaitu makhluk yang tidak dapat berdiri sendiri melainkan membutuhkan segenap lingkungan sosialnya untuk dapat bertahan hidup. Sesederhana itulah sosialisme dalam pembacaan atas Lebowitz.

Kapitalisme Sebagai Konteks Kemunculan Sosialisme

Apabila pendukung neoliberalisme—bentuk transformasi kapitalisme dalam konteks globalisasi—mengajukan premis There is No Alternative atau dalam arti lain bahwa neoliberalisme merupakan satu-satunya pilihan, pesan utama Lebowitz yang tersirat dalam bukunya adalah There is alternative beyond neoliberalism, that is socialism’ (Ada alternative yang melampaui neoliberalisme, hal itu adalah sosialisme, red). Untuk sampai pada gagasan tersebut, Lebowitz memulai uraiannya pada pembahasan mengenai kapitalisme. Garis besar pembahasan mengenai kapitalisme ini berkisar pada soal apa itu kapitalisme dan juga kritik terhadap kapitalisme. Hal yang disebut terakhir ini menjadi dasar argumentasi kenapa sosialisme merupakan konsekuensi yang logis dari kapitalisme, bahwa kapitalisme mengandung kontradiksi-kontradiksi yang tidak terpecahkan selain melampaui kapitalisme itu sendiri

Pada bagian pertama bukunya, Lebowitz menjelaskan kapitalisme sebagai sistem produksi yang mengabaikan kebutuhan-kebutuhan manusia dengan lebih berorientasi pada pertumbuhan kekayaan individu-individu.[4] Hal ini ditunjukkan oleh berbagai usaha-usaha kapital dalam mewujudkan orientasinya tersebut. Dalam aspek produksi misalnya, usaha-usaha yang dimaksud seperti memperpanjang atau mengintensifkan jam kerja, merendahkan upah riil, pemindahan pabrik ke tempat di mana buruh-buruh bersedia diberi upah rendah,[5] dan penggunaan teknologi atau mesin.[6] Selain dalam aspek produksi, kapital juga melakukan usaha-usaha dalam aspek konsumsi. Untuk merealisasikan laba dari komoditas yang diciptakan dalam produksi, selanjutnya kapital bergerak pada ranah perdagangan. Usaha-usaha yang dilakukan adalah seperti perluasan pasar dan menciptakan kebutuhan-kebutuhan artifisial.[7]

Apa yang kemudian mengiringi dari usaha-usaha kapital tersebut adalah produksi-lebih (overproduction). Produksi-lebih ini muncul karena tidak terjadinya korespondensi antara konsumsi buruh dengan produktivitas kerja.[8] Artinya, terjadi kesenjangan antara tingkat kemampuan buruh untuk membeli hasil kerjanya—yaitu komoditas yang Ia produksi—dengan sejumlah komoditi yang tersedia.[9] Sebagai contoh, bagaimana bisa buruh di pabrik Nike membeli sepatu Nike dengan harga sekitar 500ribu-an sementara gaji buruh itu sendiri setara dengan UMR? Meskipun kesenjangan ini diantisipasi melalui perluasan pasar, misalnya dengan mengimpor komoditas tersebut melalui pasar global, namun di akhir hasilnya akan tetap terjadi overproduksi.[10]

Overproduksi merupakan konsekuensi dari logika kapitalisme yang berproduksi dalam anarki. Dalam penjelasan Coen Husain Pontoh, anarki produksi ini terjadi karena dalam kapitalisme produksi komoditi tidak ditujukan untuk konsumsi sendiri melainkan untuk dijual di pasar.[11] Hal ini ditegaskan oleh Lebowitz dengan mengutip Marx yaitu, bahwa ‘produksi kapitalis berjalan tanpa mempertimbangkan batas-batas aktual dari pasar atau kebutuhan-kebutuhan yang bisa ditopang oleh kemampuan untuk membayar”.[12] Ilustrasi sederhana dari overproduksi ini adalah, misalnya banjir produk-produk impor dari China di pasar Indonesia.

Dengan demikian, sampai di sini kiranya cukup jelas dari apa yang dimaksud dari kapitalisme sebagai sistem produksi yang berorientasi pada pertumbuhan kekayaan individu-individu yang mengabaikan kebutuhan-kebutuhan manusia. Logika kapitalisme ini akan terlihat kontras ketika memperbandingkannya dengan visi sosialisme. Untuk menutup bagian ini, berikut kutipan yang dapat menyimpulkan uraian singkat mengenai kapitalisme:

“laba-lah—bukan kebutuhan-kebutuhan dari orang-orang sebagai manusia yang mengembangkan dirinya secara sosial—yang menentukan watak produksi dalam kapitalisme.... Sistem ekonomi apalagi yang menurut anda bisa menghasilkan pada saat yang bersamaan sumber-sumber daya yang menganggur, orang-orang-orang yang menganggur, dan orang-orang yang tak terpenuhi kebutuhannya karena apa yang dibutuhkannya tak diproduksi? Sistem ekonomi apalagi yang membiarkan orang-orang kelaparan di satu bagian dunia sementara di tempat lain terdapat keberlimpahan bahan pangan dan di mana muncul keluhan ‘terlalu banyak makanan yang diproduksi’”?[13]

Visi Sosialisme

Kapitalisme dengan segenap logika yang melingkupinya akan selalu berputar-putar pada persoalan laba. Optimalisasi laba tanpa memperdulikan konsekuensi-konsekuensi sosial dari bagaimana laba itu dapat diperoleh, entah melalui penciptaan kebutuhan-kebutuhan artifisial, menekan upah buruh, merevolusionerkan proses produksinya atau memindahkan pabriknya. Dengan demikian, usaha untuk memperbaiki tatanan masyarakat yang bergerak dengan tujuan memanusiakan manusia adalah tidak lain dengan menjadikan masyarakat dengan visi yang menekankan pada perkembangan secara utuh segenap potensi manusia.

Hal ini berkaitan dengan kritik Lebowitz terhadap gerakan-gerakan anti-kapitalisme yang menurutnya hanya sebatas mengubah wajah kapitalisme menjadi lebih manusiawi, suatu kapitalisme yang lebih ramah, tanpa dapat mengubah kontradiksi-kontradiksi yang inheren dalam tubuh kapitalisme.[14] Untuk menuju suatu tatanan masyarakat yang lebih baik tidak bisa hanya dengan melawan aspek-aspek tertentu dari kapitalisme, melainkan benar-benar melampaui segenap kapitalisme itu sendiri. Dalam hal ini, melihat kapitalisme tidak dapat hanya pada bagian-bagian sistem kapitalisme secara terpisah-pisah, melainkan dalam suatu keutuhan.

Masyarakat sosialis yang diungkapan Marx, sebagaimana dikutip oleh Lebowitz,  merupakan masyarakat yang tujuan sejatinya adalah perkembangan segenap kekuatan manusia sebagai tujuan dalam dirinya sendiri. Individu-individu dalam suatu masyarakat dengan tujuan demikian akan melakukan aktivitas produksi atas dasar kesadaran saling membutuhkan. Tiap-tiap individu akan merasakan saling-keterikatan, di mana perasaan kesenangan dan kepuasan akan muncul ketika saling berhubungan dalam aktivitas produksi.[15] Perasaan yang muncul karena mengetahui apa yang dikerjakan adalah sesuatu yang berharga bagi yang lain. Dengan kalimat yang puitis Marx menjelaskan, Kebutuhanmu merupakan dasar utama dari aktivitasku, dan sebagai imbalannya, aku akan mendapatkan tempat dalam pemikiran dan cintamu.[16]

Masyarakat yang demikian mustahil terwujud dalam kapitalisme. Hal tersebut dikarenakan, sepanjang kita berelasi satu sama lain bukan sebagai anggota-anggota dari suatu komunitas manusia, namun sebagai pemilik-pemilik yang mengejar kepentingannya sendiri, demikian simpul Marx, keterpisahan yang destruktif di antara orang-orang ini akan terus direproduksi. Hal ini juga sebagaimana kapitalisme akan selalu membatasi kesempatan buruh untuk dapat memenuhi, tidak hanya kebutuhan dasarnya, melainkan juga kebutuhan-kebutuhan sosial. Kebutuhan sosial tersebut dicontohkan oleh Marx misalnya, kebutuhan untuk berpartisipasi dalam aktivitas-aktivitas kultural yang lebih tinggi untuk mengejar kepentingan-kepentingan pribadinya sendiri, untuk berlangganan koran, mengikuti kuliah, mendidik anak-anaknya, mengembangkan cita rasa, dsb.[17] Inilah yang dikatakan sebagai potensi-potensi manusia yang kaya yang tidak mungkin terwujud dalam suatu sistem produksi yang mengabaikan kebutuhan-kebutuhan manusia.

Dalam masyarakat kapitalisme, perlu diakui ada kelas tertentu yang memiliki waktu dan akses untuk mengembangkan potensinya sebagai manusia. Kelas tertentu yang dimaksud tidak lain adalah kelas kapitalis. Dalam istilah Lebowitz, kelas kapitalis merupakan ‘sang pendaku yang duduk ongkang-ongkang kaki’ (the residual claimant).[18] Dikatakan ‘ongkang-ongkang kaki’ di sini sebab semua buah dari aktivitas produksi yang dijalankan oleh para produsennya (dalam kata lain, buruh) jatuh ke tangan sang kapitalis. Meskipun muncul bantahan bahwa kelas kapitalis ikut memikirkan resiko kebangkrutan, krisis, mengatur perusahaan, namun tetap pertaruhan hidup-mati kelas kapitalis dalam suatu aktivitas produksi tidak sebanding dengan para pekerja.[19] Lebih fundamentalnya, pada dasarnya ‘kebebasan’ kelas kapitalis dalam mengembangkan potensinya sebagai manusia berdiri di atas fondasi ketidakbebasan kelas pekerja.

Apabila ditelisik, maka persoalan yang tampak kiranya hanya sebatas ketersediaan waktu luang yang berkaitan dengan jam kerja. Namun, makna waktu tersebut tidaklah sesederhana yang kita bayangkan pada umumnya.[20] Keberhasilan tuntutan buruh dalam pengurangan jam kerja memang dapat memberikan kesempatan yang lebih terbuka bagi buruh untuk mengembangkan dirinya. Hal yang perlu digarisbawahi di sini adalah bahwa laba yang menjadi dasar eksistensi kapitalis tercipta dari nilai lebih melalui prasyarat kerja lebih.[21] Singkatnya, mengurangi jam kerja bagi buruh artinya sama dengan mengurangi tingkat keuntungan kapitalis.

Tentu kapitalis tidak akan hanya meratapi merosotnya tingkat keuntungan yang diterimanya. Dijelaskan oleh Lebowitz bahwa dalam setiap keberhasilan kecil yang diraih oleh buruh, akan selalu diiringi dengan penentangan dari para kapitalis. Penentangan tersebut dapat dilakukan oleh berbagai usaha-usaha, sebagaimana telah dijelaskan sebelumnya, seperti memindahkan pabrik, merevolusionisasi proses produksi dan seterusnya. Maka sebagaimana disinggung sebelumnya, upaya melampaui kapitalisme tidak dapat hanya berhenti pada perjuangan pengurangan jam kerja atau bagian-bagian tertentu dalam sistem kapitalisme, sebab hal tersebut hanya satu bagian dari sistem kapitalisme secara keseluruhan.

Selama sistem produksi kapitalisme masih sedemikian hegemoniknya, perkembangan diri manusia seutuhnya tidak akan pernah terwujud—alih-alih terjebak pada rutinitas pekerjaan. Dengan tidak hanya terjebak pada rutinitas pekerjaan, maka terbuka suatu ruang untuk memiliki waktu yang berguna untuk perkembangan cita rasa keindahan, keilmuan dan seterusnya. Hal inilah yang menjadi tujuan masyarakat sosialis: menciptakan suatu masyarakat yang akan memungkinkan perkembangan secara utuh potensi dan kemampuan manusia.

Dengan demikian, pilihan untuk keluar dari situasi problematik dalam masyarakat kapitalis adalah dengan menjadikan suatu masyarakat yang di dalamnya relasi produksi[22] akan menjadi relasi dari suatu asosiasi produsen-produsen secara bebas. Untuk mewujudkannya hanyalah dengan merevolusi sistem produksi yang di dalamnya tercakupi relasi-relasi antar manusia.[23] Melalui asosiasi-asosiasi inilah kebutuhan-kebutuhan sosial, tidak hanya buruh, melainkan juga masyarakat secara luas dapat terpenuhi. Hal ini dimungkinkan sebab logika produksi dalam masyarakat yang demikian menempatkan pembangunan manusia sebagai tujuan utamanya, sebagaimana terlihat kontras dengan kapitalisme yang menempatkan manusia-manusia produsen hanya sebagai alat untuk mencapai tujuan kapital: laba.

Dalam hal ini, pertanyaan Lebowitz menjadi menarik: “adakah cara lain bagi kita untuk bisa memahami kebutuhan-kebutuhan orang lain selain dengan mendengarkan suara-suara mereka?”[24] Bagaimana mungkin suatu produksi dapat mengakomodasi kebutuhan-kebutuhan sosial para pelakunya ketika para pelaku itu sendiri tereksklusikan dalam proses pengambilan keputusan mengenai bagaimana produksi itu dijalankan? Bagaimana mungkin kebutuhan-kebutuhan manusia ditempatkan sebagai tujuan tertinggi dalam suatu sistem produksi yang menempatkan buruh hanya sebagai alat pertumbuhan kapital dan dijalankan secara despotik? Bagaimana mungkin kebutuhan-kebutuhan manusia dapat terpenuhi ketika para alat-alat produksi harus terpisah dari produsen-produsen yang menggunakannya, ketika kaum buruh tak memiliki hak milik dalam produk yang dihasilkan dalam aktivitas mereka, melainkan dimiliki oleh kapitalis?

Di sinilah unsur demokrasi yang kita pahami sehari-hari terkandung dalam sosialisme, yaitu partisipasi. Partisipasi yang dimaksud disini tidak hanya sebatas memberikan suara pada hajatan demokrasi lima tahunan, melainkan partisipasi yang sejati. Suatu bentuk partisipasi dimana rakyat tidak hanya sebatas menjadi objek kekuasaan, melainkan sebagai subjek pelaku aktif.[25] Hal ini merupakan suatu cerminan masyarakat yang berwatak demokratik, partisipatoris dan protagonistik.[26]

Wajah Demokratis Dari Masyarakat Sosialis

Democracy is a practice, it’s only through your own activity that you can, in fact, developed’ (Demokrasi adalah sebuah praktek, hanya melalui aktifitasmu sendirilah maka kamu dapat, pada kenyataannya, mengembangkannya).
(Testimoni Lebowitz dalam film dokumenter Beyond Elections: Redefining Democracy in the Americas)

Lalu bagaimana jelasnya yang dimaksud dengan sistem produksi yang menempatkan manusia sebagai fokus utamanya, sebagai tujuan tertingginya? Dan apa kaitannya dengan demokrasi yang kita pahami dalam bahasa sehari-hari? Pertanyaan yang pertama dalam relevansinya dengan uraian Lebowitz merujuk pada pengalaman praktek sosialisme di Venezuela. Sebagai permulaan, bagian ini akan dimulai dengan melihat konstitusi Republik Bolivarian Venezuela yang merefleksikan cara pandang masyarakat Venezuela mengenai relasi-relasi sosial baru, suatu alternatif terhadap kapitalisme.

Konstitusi Republik Bolivarian Venezuela memuat secara spesifik bagaimana perkembangan diri manusia dapat terwujud. Pasal 62 misalnya, menekankan bahwa partisipasi rakyat merupakan jalan yang niscaya untuk merealisasikan keterlibatan mereka sehingga menjamin perkembangan diri mereka secara lengkap, baik secara individual maupun kolektif. Jaminan terhadap perkembangan diri manusia juga tercantum, misalnya dalam pasal 299, menjamin perkembangan diri manusia secara menyeluruh. Nilai-nilai tersebut diwujudkan dalam model sosial, seperti swa-kelola, pengelolaan bersama-sama, koperasi dalam berbagai bentuknya yang dijalankan melalui perencanaan demokratis dan penyusunan anggaran secara partisipatoris.[27] Dalam kaitannya dengan hal ini, Chavez mengungkapkan bahwa, Anda tak aka bisa mengakhir kemiskinan tanpa memberikan kekuatan kepada kaum miskin.[28]

Kita dapat mengimajinasikan masyarakat yang demikian sebagai suatu masyarakat yang koperatif, suatu masyarakat yang mendasarkan hidupnya pada hak milik bersama atas alat-alat produksi. Jika pada masyarakat kapitalis kecenderungan yang terjadi dalam relasi-relasi sosial adalah kompetisi dan individualisme, maka dalam masyarakat koperatif relasi yang terjadi adalah hubungan solidaritas dengan penitikberatan pada kepentingan-kepentingan komunitas, saling memenuhi kebutuhan satu sama lain. Kemudian, jika dalam sistem produksi kapitalisme para produsen tak memiliki hak milik dalam produk yang dihasilkan dalam aktivitasnya, maka dalam sistem produksi koperasi para produsen dapat memetik untung dari hasil kerja karena hak kepemilikan dikelola secara kolektif.

Masyarakat kolektif tersebut bergerak dalam praktek demokrasi. Sebagaimana banyak ditekankan dalam tulisan ini bahwa dengan tujuannya adalah untuk perkembangan-diri setiap individu-individu dalam kolektivitas, maka setiap orang dalam masyarakat tersebut turut terlibat dalam proses pengambilan keputusan yang memiliki dampak terhadap mereka di setiap tingkat, misal tingkat pertetanggaan, komunitas atau masyarakat luas. Melalui praktek ini, tujuan yang dirumuskan dalam proses pengambilan keputusan tersebut adalah tujuannya orang-orang itu sendiri, atau dalam kata lain menempatkan manusia-nya sebagai tujuan tertinggi. Melalui praktek demokrasi, maka menjadi jelas siapa yang memutuskan apa yang harus dikerjakan dan dengan cara bagaimana dikerjakan. Hal ini sebagaimana mengulang kembali pertanyaan sebelumnya, adakah cara lain bagi kita untuk bisa memahami kebutuhan-kebutuhan orang lain selain dengan mendengarkan suara-suara mereka?.

Atas dasar landasan konstitusi dan kerangka pikir itulah masyarakat sosialisme di Venezuela tengah berjalan. Pembangunan koperasi misalnya, merupakan langkah konkret dalam mewujudkan suatu asosiasi-asosiasi di bawah kepemilikan kolektif. Pada tahun-tahun awal Revolusi Bolivarian mulai dijalankan, pada tahun 1998 hanya ada 762 koperasi yang kemudian berkembang menjadi 84.000 koperasi pada tahun 2005.

Pada contoh lain, pengelolaan perusahaan-perusahaan yang diambil alih oleh buruh juga dijalankan secara demokratis. Dalam pengelolaannya, buruh di sini menjadi bagian dalam menentukan bagaimana produksi dijalankan dan pembagian hasil kerja. Tidak ada hierarki dalam suatu rantai komando (sebagaimana menjadi ciri despotisme perusahaan-perusahaan kapitalis), melainkan adanya pembagian kerja secara horizontal. ‘Laba’ perusahaan yang dihasilkan di sini tidak diarahkan sebagai kapital untuk ekspansi, melainkan menjadi bagian dari dana sosial yang akan membantu mengatasi kemiskinan bagi masyarakat secara luas, penduduk Venezuela.

Beberapa film dokumenter dapat menjadi rujukan untuk memudahkan dalam mengimajinasikan praktek-praktek demokrasi secara konkret dalam masyarakat sosialisme dan sebagai pelengkap dari uraian tertulis di sini. Sebagai contoh, film Beyond Elections: Redefining Democracy in the Americas menggambarkan wajah masyarakat yang demokratik, partisipatoris dan protagonistik dengan mengambil contoh singkat beberapa negara di benua Amerika.[29] Pada film ini terdapat banyak contoh-contoh konkret praktek demokrasi dalam masyarakat sosialis. Sebagai contoh, pada bagian pertama membahas soal Penganggaran Partisipatif (Participatory Budgeting) yang diterapkan pertama kali di Brazil pada wilayah Porto Allegre. Setiap pos-pos anggaran dalam rencana pembangunan pada setiap komunitas-komunitas ditentukan melalui suatu forum di mana setiap anggota-anggota dari komunitas terlibat di dalamya. Sementara di Venezuela mengambil pelajaran dari pembentukan dewan-dewan komunal di mana setiap warga yang terlibat dapat mengajukan rencana pembangunan di lingkungan mereka.

Contoh lainnya adalah film dokumenter The Take (2004). Film ini mendokumentasikan bagaimana buruh-buruh di Argentina melakukan pengambilalihan terhadap pabrik-pabrik yang ditinggalkan pemiliknya ketika krisis melanda pada tahun 2001. Gerakan pengambilalihan yang didokumentasikan dalam film ini memfokuskan pada pengambilalihan pabrik onderdil otomotif Forja San Martin dan juga pabrik-pabrik yang telah diambil alih sebelumnya, yaitu pabrik keramik Zanon dan pabrik garmen Brukman.

Dalam film ini digambarkan bagaimana pabrik-pabrik yang telah diambil alih oleh pekerja membentuk suatu relasi produksi yang baru, yaitu di mana para buruh mengontrol secara menyeluruh atas jalannya produksi tanpa campur tangan para kapitalis pemilik lama. Pendapatan para buruh didistribusikan dengan setara (berdasarkan hasil produksi, sehingga upah pekerja dapat bervariasi tiap bulannya). Struktur pembagian kerja horizontal tanpa hierarki untuk menghindari borjuisasi pekerja dan pemisahan birokratisasi secara terpisah antara sesama pekerja. Hal ini sebagaimana dikutip dari pernyataan pemimpin gerakan pengambilalihan pabrik Forja, Freddy Espinosa: i’ll check on what he does, and he’ll check on me... of course we’re going to have to be more conscientious, and not be too bourgeois like before under the boss (saya akan memerikasa apa yang dia lakukan, ia akan memeriksa saya… tentu saja kita akan menjadi semakin teliti, dan tidak semakin borjuis sebagaimana ketika dibawah si boss, red). Selain itu, setiap proses pengambilan keputusan yang berkaitan dengan keberlangsungan produksi dan kehidupan pekerja itu sendiri dijalankan melalui model demokrasi partisipatoris secara langsung.

Pengalaman lainnya dapat diambil dari kisah bagaimana kekuatan solidaritas antar komunitas-komunitas menjadi jalan keluar atas krisis peak oil di Kuba yang didokumentasikan dalam film Power Of Community: How Cuba Survived Peak Oil (2006). Di dalam dokumentasi tersebut, antisipasi terhadap dampak krisis dilakukan dengan membentuk komunitas-komunitas yang terdiri dari beberapa kepala keluarga untuk menjalankan aktivitas produksi. Setiap hasil aktivitas produksi tersebut dimanfaatkan untuk kepentingan bersama, dalam kata lain saling memenuhi kebutuhan antar individu dalam suatu komunitas dan juga antar komunitas. Selain itu, di Indonesia sendiri terdapat model swa-kelola yang juga dapat menjadi contoh pembelajaran. Model swa-kelola yang melibatkan partisipasi aktif komunitas ini merujuk pada sekolah alternatif Qaryah Thayyibah di Kali Bening.[30]

Refleksi

Secara garis besar, pembelajaran yang didapatkan dalam buku Lebowitz adalah sosialisme tidak hanya sebatas berkaitan dengan kepentingan buruh, melainkan memiliki tujuan yang lebih besar yaitu untuk membangun suatu masyarakat yang baru. Masyarakat yang baru ini tidak hanya berdiri di atas persoalan-persoalan anti-kapitalisme saja, namun juga berkaitan dengan persoalan penindasan-penindasan lainnya, seperti tradisi patriarki, rasisme, atau diskriminasi. Pada titik ini sosialisme harus dilihat sebagai suatu proses, yaitu di mana proses konstruksi dilakukan bersamaan dengan proses dekonstruksi tatanan masyarakat yang lama.[31]

Mengenai sosialisme sebagai proses ini dapat merujuk pada ungkapan Che Guevara. Dalam pandangan Che Guevara untuk membangun masyarakat baru adalah perlu berbarengan dengan pembangunan fondasi-fondasi material yang baru, untuk membangun laki-laki dan perempuan yang baru.[32] Sebab tanpa upaya berbarengan ini, mustahil untuk mewujudkan tujuan di mana suatu masyarakat bergerak atas dasar solidaritas dan cinta kemanusiaan, sementara wujud penindasan-penindasan yang lainnya masih terjadi. Praktek demokrasi dalam masyarakat sosialis pun tidak dapat berjalan: as long as exploitation exist, there’s not gonna be any democracy (sepanjang eksploitasi masih berlangsung, tidak akan pernah ada demokrasi, red).[33]

Ungkapan yang terakhir tersebut cukup mewakili pandangan bahwa kehidupan sosial masyarakat dalam sosialis tidak lagi berdiri di atas eksploitasi. Saya sendiri bersepakat bahwa mewujudkan sosialisme berarti menghapus segala bentuk penindasan yang ada, entah penindasan berbasis seksisme, rasisme, ultra-nasionalisme, atau berlandaskan kepercayaan agama. Namun, hal-hal seperti ini yang tidak terungkap dengan jelas dalam uraian Lebowitz.

Dalam kaitannya dengan hal ini, misalnya kritik Laclau dan Mouffe terhadap kegagalan Marxisme memunculkan pertanyaan yang pada intinya berkisar pada: bagaimana menempatkan agen-agen sosial lain diluar kekuatan buruh yang muncul dalam kerangka kapitalisme kontemporer ke dalam perjuangan mewujudkan visi sosialisme? Siapa yang bertanggungjawab untuk memainkan peran kepemimpinan sementara kaum buruh belum mapan dan terfragmentasi?.[34] Konteks pertanyaan tersebut berkaitan dengan kompleksitas-kompleksitas sosial yang muncul seiring dengan penetrasi kapitalisme ke dalam berbagai kehidupan sosial kita. Artinya, antagonisme-antagonisme, menurut Laclau dan Mouffe, tidak hanya sebatas antagonisme ‘di dalam pabrik saja’, melainkan terjadi dalam berbagai ruang sosial yang kompleks.

Lebowitz dalam hal ini telah mengingatkan kepada kita—meskipun tidak menawarkan solusi langsung—bahwa sosialisme tidak dapat terwujud ketika buruh hanya berkutat pada kepentingan-diri buruh saja, artinya terdapat keterpisahan antara buruh dengan masyarakat secara luas. Dengan demikian, maka pertanyaan selanjutnya yang perlu dijawab—dan tentunya juga dipraktekkan sebagai perwujudan dari praxis—adalah bagaimana memperluas wacana sosialisme sehingga tidak sebatas identik dengan ‘kepentingan buruh saja’. Sebagaimana dijelaskan sebelumnya, bahwa sosialisme berarti menciptakan manusia-manusia yang baru. Sosialisme sebagai pelampauan terhadap kapitalisme juga berarti realisasi atas cita-cita mengakhiri kemiskinan dari mayoritas penduduk dunia.

Sebagai penutup, kita di sini sekiranya perlu untuk menempatkan diri sebagai buruh (atau calon buruh), sebagai orang yang terpisahkan dari alat-alat produksi. Melihat proletarisasi misalnya, terdapat kecenderungan hampir setiap orang harus menjual tenaga kerjanya untuk dapat menghidupi diri dan keluarganya dan melihat kondisi yang serba rentan dengan terbatasnya sarana-sarana penghidupan (lapangan kerja) dan tekanan biaya hidup yang semakin tinggi. Maka kepentingan terhadap sosialisme juga adalah kepentingan kita. Dengan demikian, kita dapat keluar dari persoalan keterasingan dan mengembangkan potensi-potensi kita sebagai manusia yang kaya.

Referensi

A. Lebowitz, Michael. “Sosialisme Sekarang Juga”. Yogyakarta: Resist Book, 2009.
Husain Pontoh, Coen. “Kapitalisme-Neoliberal Sebagai Proyek Kelas: Sebuah Analisa Marxis”. dalam Jurnal Indoprogress Vol. I Nomor 01, 2014, Yogyakarta: Resist Book, 2013
Laclau, Ernesto dan Chantal Mouffe. “Hegemoni dan Strategi Sosialis: Postmarxisme dan Gerakan Sosial Baru”. Yogyakarta: Resist Book, 2008.
Sirait, Chrysandi., Erwin Santoso dan Windu Jusuf dalam “‘Indonesia Belajar’ di Kali Bening’. diakses dari http://indoprogress.com/2014/05/indonesia-belajar-di-kali-bening-salatiga/
Suryajaya, Martin. “Dilema Althusser”. diakses dari http://indoprogress.com/2012/02/dilema-althusser/.
Winters, Jeffrey. “Power in Motion: Capital Mobility and Indonesian State”. Ithaca: Cornell University Press. 1996.
Zaki Hussein, Mohamad. “Belajar Demokrasi dari Amerika Latin”. diakses dari http://www.prp-indonesia.org/2014/belajar-demokrasi-dari-amerika-latin/
Zaki Hussein, Mohamad. “Ideologi dan Reproduksi Masyarakat Kapitalis”. diakses dari http://indoprogress.com/2012/01/ideologi-dan-reproduksi-masyarakat-kapitalis/.
Zaki Hussein, Mohamad. “Kontradiksi Kerja-Upahan dan Kapital”. diakses dari http://indoprogress.com/2013/03/kontradiksi-kerja-upahan-dan-kapital/

Referensi Tambahan

Film Dokumenter Power Of Community: How Cuba Survived Peak Oil (2006)
Film Dokumenter The Take (2004).
Film Dokumenter Beyond Elections: Redefining Democracy in the Americas (2008)




[1] Edukasi di sini bermakna luas, namun sesederhana pada pengertian mengembangkan pengetahuan dan wawasan, seperti membaca buku, menonton film atau teater, berekreasi di alam, menikmati seni dan seterusnya. Lebih jelasnya mengenai yang dimaksud dari potensi-potensi akan diuraikan pada bagian mengenai Visi Sosialisme.
[2] Michael A. Lebowitz, “Sosialisme Sekarang Juga”, Yogyakarta: Resist Book, 2009.
[3] Meskipun Lebowitz banyak menyiratkan unsur-unsur demokratis dari praktek sosialisme, namun dalam banyak uraiannya mengenai praktek di Venezuela, ia tidak banyak memberi contoh konkret praktek-praktek demokratis dalam relasi produksi masyarakat sosialis di Venezuela. Untuk itu, bentuk konkret praktek-praktek demokratis yang dimaksud dalam tulisan ini akan ditunjang oleh berbagai referensi tambahan.
[4] Lihat bagian ‘Kebutuhan Kapital Versus Kebutuhan Manusia’ dalam Ibid., hlm 11-50
[5] Ada kecenderungan di mana kapital selalu bergerak mengikuti wilayah-wilayah dengan potensi keuntungan yang lebih besar. Misalnya pada aspek kesediaan buruh untuk diupah rendah atau besaran jumlah penduduk. Lebih lengkapnya lihat uraian Jeffrey Winters dalam “Power in Motion: Capital Mobility and Indonesian State”, Ithaca: Cornell University Press. 1996.
[6] Penggunaan teknologi ini tidak hanya sekedar sebagai usaha meningkatkan produktivitas yang lebih efektif dan efisien, juga sebagai upaya memecah-belah solidaritas buruh dengan menciptakan apa yang disebut Marx sebagai ‘tentara cadangan tenaga kerja’ (reserve army of labor). Lihat Lebowitz, Ibid., hlm 32. Perpecahan ini tercipta akibat kelangkaan lapangan pekerjaan sebagaimana teknologi atau mesin dapat menggantikan tenaga kerja buruh. Konsekuensinya adalah terjadinya persaingan antar buruh untuk mendapatkan lapangan pekerjaan yang kemudian dapat memecah-belah solidaritas buruh.
[7] Ibid., hlm 34-41. Penciptaan kebutuhan-kebutuhan artifisial ini menjadi penting karena bagaimana laba dapat direalisasikan sementara tidak ada yang membeli komoditi-komoditi yang dihasilkan? Dikatakan artifisial karena di sini letak peranan, meminjam istilah Althusser, ‘Aparatus Ideologi Negara’ sebagai usaha kapital dalam mereproduksi syarat-syarat yang memungkinkan berjalannya kapitalisme. Iklan—yang dipropagandakan lewat media massa—misalnya, berperan untuk menciptakan kesadaran bahwa kita ‘membutuhkan’ iPhone. Uraian singkat mengenai bagaimana reproduksi syarat-syarat agar kapitalisme dapat beroperasi lihat tulisan Mohamad Zaki Hussein, “Ideologi dan Reproduksi Masyarakat Kapitalis”, diakses dari http://indoprogress.com/2012/01/ideologi-dan-reproduksi-masyarakat-kapitalis/, dan Martin Suryajaya, “Dilema Althusser”, diakses dari http://indoprogress.com/2012/02/dilema-althusser/.
[8] Ibid., hlm 37
[9] Masalah ini juga mengisyaratkan terjadinya keterasingan dalam hal apa yang diproduksi buruh tidak secara langsung menjadi hak miliknya.
[10] Dalam kutipan aslinya, ‘kemampuan kapital untuk pindah ke negara-negara dengan upah rendah agar bisa memproduksi komoditi-komoditi manufaktur yang akan diekspor kembali ke negara-negara yang lebih maju semakin meningkatkan secara nyata jurang kesenjangan antara produktivitas dan upah riil. Dan itu berarti meningkatnya tingkat eksploitasi di dunia’. Lihat Ibid., hlm 38.
[11] Lihat Coen Husain Pontoh, “Kapitalisme-Neoliberal Sebagai Proyek Kelas: Sebuah Analisa Marxis”, dalam Jurnal Indoprogress Vol. I Nomor 01, 2014, Yogyakarta: Resist Book, 2013, hlm 13
[12] Lebowitz, Op.cit., hlm 37
[13] Ibid., hlm 39
[14] Dalam ungkapan lainnya, “... satu-satunya alternatif yang kemudian layak diusulkan bagi barbarisme yang ada ialah barbarisme dengan wajah manusiawi ”. Lihat Ibid., hlm 78.
[15] Perlu diklarifikasi di sini, merujuk pada penjelasan Lebowitz, bahwa yang dimaksud dari aktivitas produksi bukan hanya sebatas sesuatu yang terjadi dalam sebuah pabrik atau dalam arti produksi merujuk pada sebuah tempat kerja yang pada umumnya kita pahami. Melainkan, produksi sebagai setiap aktivitas yang bertujuan untuk menyediakan input bagi perkembangan manusia-manusia. Lihat Ibid., hlm 126.
[16] Ibid., hlm 14
[17] Sebagaimana dikutip dalam Ibid., hlm 26
[18] Ibid., hlm 21
[19] Sebagaimana kelas pekerja tidak memiliki pilihan lain selain menjual tenaga kerjanya untuk dapat bertahan hidup.
[20] Lebih jelasnya Lebowitz menyitir ungkapan Marx mengenai waktu ialah ‘ruang bagi perkembangan diri manusia. Seorang manusia yang tak memiliki waktu luang untuk dirinya sendiri, yang seluruh waktu hidupnya, selain dari saat-saat untuk tidur, makan dan seterusnya, terserap dalam kerjanya demi kepentingan sang kapitalis, sesungguhnya tak lebih baik dari seekor binatang pengangkut beban’. Lihat Ibid., hlm 25
[21] Tulisan ini tidak akan membahas lebih dalam mengenai asal usul penciptaan laba sebagai realisasi nilai lebih yang didahului oleh prasyarat kerja lebih. Lebih lanjut lihat Ibid., hlm 22-23; Coen Husain Pontoh, Op.cit., hlm 14-15, dan; Mohamad Zaki Hussein, “Kontradiksi Kerja-Upahan dan Kapital”, diakses dari http://indoprogress.com/2013/03/kontradiksi-kerja-upahan-dan-kapital/
[22] Lihat kembali klarifikasi term ‘produksi’ pada footnote no. 15.
[23] Lebowitz, Op.cit., hlm 50
[24] Ibid., hlm 92
[25] Kembali merujuk pada pengertian demokrasi dalam pemahaman yang paling dangkal: demokrasi dari rakyat, oleh rakyat, dan untuk rakyat
[26] Mengutip Konstitusi Republik Bolivarian Venezuela, suatu konstitusi di mana premisnya ialah bahwa perkembangan diri manusia secara utuh sebagai subyek-subyek yang didasarkan pada ‘partisipasi aktif, sadar, dan bersama dalam proses transformasi sosial yang mengejawantahkan nilai-nilai identitas nasional. Lihat Ibid., hlm 177
[27] Ibid., hlm 92
[28] Ibid., hlm 201
[29] Mengenai ulasan lengkap film ini lihat Mohamad Zaki Hussein, “Belajar Demokrasi dari Amerika Latin”, diakses dari http://www.prp-indonesia.org/2014/belajar-demokrasi-dari-amerika-latin
[30] Lihat Chrysandi Sirait, Erwin Santoso dan Windu Jusuf dalam ‘’Indonesia Belajar di Kali Bening’’, diakses dari http://indoprogress.com/2014/05/indonesia-belajar-di-kali-bening-salatiga/
[31] Lebowitz, Op.cit., hlm 119-122.
[32] Ibid., hlm 123.
[33] sebagaimana menjadi pesan penutup dalam film dokumenter Beyond Elections: Redefining Democracy in the Americas.
[34] Lihat Ernesto Laclau dan Chantal Mouffe,  “Hegemoni dan Strategi Sosialis: Postmarxisme dan Gerakan Sosial Baru”, Yogyakarta: Resist Book, 2008.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar