Tampilkan postingan dengan label Gesang Kinasih. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Gesang Kinasih. Tampilkan semua postingan

Jumat, 13 Februari 2015

“Belajar pada Che!”

Oleh Gesang Kinasih

“Di atas segalanya, kembangkan selalu perasaan yang dalam pada siapapun yang mengalami ketidakadilan, dimanapun di dunia ini. Inilah kualitas yang paling indah dari seorang revolusioner.”
(Surat Che kepada Anaknya-Anaknya, 1965)

Tulisan ini lahir setelah menonton sebuah film. Saya akan memberikan sedikit refleksi mengenai perjalanan hidup salah seorang revolusioner sejati dari Amerika Latin, yaitu Ernesto Guevara Lynch de La Serna atau yang lebih akrab dikenal sebagai Che Guevara. Pada tulisan ini, saya berusaha membacanya dengan se-biasa mungkin. Karena mungkin banyak distorsi yang muncul dari kehidupannya. Pada tulisan ini, saya juga hanya menampilkannya dalam bentuk opini saja, bukan sebuah tulisan ilmiah.

Minggu, 20 April 2014

Surat Untuk Kartini

Dari Seorang Kawanmu

Kepada Kawan Kartini
Semoga kamu dalam keadaan baik di sisi Tuhanmu.

Kawan,
Saya memang seorang laki-laki, yang sering kau sangka bagian dari penindas dan pengekang bagi perempuan. Namun, di sini saya berusaha meyakinkanmu, tidak dalam posisi itu. Saya sepakat dengan ide dan perjuanganmu, bahwa dalam kehidupan kapitalisme ini perempuan menjadi bagian yang paling sering ditindas dan dipinggirkan. Bahkan, saya sepakat dengan ide untuk membebaskan perempuan dari belenggu ini, baik dari adat dan agama.

Senin, 18 November 2013

Pendidikan dalam Struktur Kapitalisme Kontemporer

Oleh Gesang Kinasih
Departemen Agitasi dan Propaganda SEMAR UI

“Pasca pembatalan UU BHP, Bank Dunia pada tanggal 17 April 2010 mengeluarkan dokumen Indonesia Managing Higher Education for Relevance and Efficiency (IMHERE) yang berbunyi: “A new BHP must be passed to establish the independent legal status of all education institutions in Indonesia (public and private), thereby making BHMN HEIs a legal subset of BHP.” Dalam dokumen tersebut diperlihatkan, bahwa masalah pendidikan di Indonesia selama ini hadir disebabkan oleh publik yang kurang mengeluarkan uang lebih banyak untuk pendidikan tinggi, karena saat ini masyarakat umum menganggap pendidikan hanya sebagai barang tersier/mewah. Dari itu, kemudian secara fakta kita bisa temui UU Pendidikan Tinggi (Dikti) hadir  di pertengahan tahun 2012. [1]