Tampilkan postingan dengan label perempuan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label perempuan. Tampilkan semua postingan
Rabu, 18 Maret 2015
Terbitan Baru!! "HERSTORY" Edisi 1 / Maret 2015
Label:
Adelia,
Aksi Kamisan,
Anti Kekerasan Perempuan,
dhuha ramadhani,
dwi febrina fajrin,
Fathimah Fildzah Izzati,
Feminisme,
gerakan,
herstory,
Perdana Putri,
perempuan,
rancha belnevan,
Syavira Wahyuni
Kamis, 31 Juli 2014
Melanggengkan Patriarki dalam Budaya Populer
Oleh Perdana Putri, mahasiswa FIB UI dan anggota Serikat
Mahasiswa Progresif UI
Saya sedang membayangkan suatu identitas
yang sangat berat. Seorang perempuan negro, lesbian, dan feminis, lalu ia hadir
dalam ruang publik kita. Apa yang akan terjadi jika dia hidup di dunia dimana
feminis dianggap hantu dan patriarki senormal oksigen? Saya memandang dunia
dalam perspektif pesimistis Sartre. Dunia ini sudah terlalu patriarkis dan male-centered. Butuh perjuangan lebih
besar dan mendasar dari gerakan-gerakan perempuan. Sebabnya, kapitalisme yang
menyebabkan penindasan terhadap perempuan memakai jubah baru yang lebih
kompleks dan lebih kontradiktif untuk melanggengkan nilai patriarkisnya: budaya
populer. Budaya populer memang suatu terminologi yang luas. Budaya populer
menandakan kuasa kapital terhadap selera masyarakat yang diturunkan untuk
kepentingan pemodal. Begitu pun persoalan perempuan; ia nyaris dihilangkan
dalam wacana budaya populer. Contohnya beragam, mulai dari pelecehan verbal
dalam acara lawak televisi hingga pengkultusan perempuan dalam ruang domestik
melalui acara gosip. Namun, dalam tulisan ini akan saya sempitkan dalam hal
budaya visual: musik video, khususnya dalam melakukan transmisi ide berkenaan
dengan feminisme dan objektifikasi perempuan.
Tubuh Perempuan Milik Siapa?
Oleh:
Bhadrika Dirgantara, mahasiswa FISIP UI dan anggota Serikat Mahasiswa Progresif
UI
Suatu hari di kampus, dalam perbincangan
ngalor-ngidul bersama teman-teman
perempuan sejurusan, saya tiba-tiba menanyakan sebuah pertanyaan yang melintas
begitu saja di benak. Pertanyaan ini sederhana. Sesuatu yang, menurut saya,
seharusnya telah diketahui tiap orang. Pertanyaan tersebut ialah, “Tubuhmu
milik siapa?” Ternyata, jawaban yang saya dapat tidak sesederhana yang saya
kira. Beberapa teman berpikir cukup lama. Perbincangan kemudian mulai
berkembang. Satu orang menjawab tubuhnya milik orangtua karena ia dilahirkan dari
rahim dan benih mereka. Satu orang menjawab tubuhnya milik masyarakat karena ia
tidak memiliki kehendak bebas untuk mengatur dirinya sendiri. Sisanya, sekitar
lima hingga enam orang, menyatakan bahwa tubuhnya ialah milik Tuhan. Tuhan
telah memberikan tubuh yang sifatnya pinjaman. Tubuh milik Tuhan ini tidak
boleh dirusak dan harus digunakan sesuai aturan Tuhan. Pada akhirnya, saya
berpikir bahwa dari sekumpulan mahasiswi itu, tidak ada yang berpikir bahwa
tubuhnya adalah miliknya. Tidak ada yang berpikir bahwa tiap diri memiliki
otoritas atas tubuhnya sendiri.
Minggu, 20 April 2014
Surat Untuk Kartini
Dari Seorang Kawanmu
Kepada Kawan Kartini
Semoga kamu dalam keadaan baik di sisi Tuhanmu.
Kawan,
Saya memang seorang laki-laki, yang
sering kau sangka bagian dari penindas dan pengekang bagi perempuan. Namun, di
sini saya berusaha meyakinkanmu, tidak dalam posisi itu. Saya sepakat dengan
ide dan perjuanganmu, bahwa dalam kehidupan kapitalisme ini perempuan menjadi
bagian yang paling sering ditindas dan dipinggirkan. Bahkan, saya sepakat
dengan ide untuk membebaskan perempuan dari belenggu ini, baik dari adat dan
agama.
Langganan:
Postingan (Atom)