Tampilkan postingan dengan label perempuan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label perempuan. Tampilkan semua postingan

Kamis, 31 Juli 2014

Melanggengkan Patriarki dalam Budaya Populer

Oleh Perdana Putri, mahasiswa FIB UI dan anggota Serikat Mahasiswa Progresif UI

Saya sedang membayangkan suatu identitas yang sangat berat. Seorang perempuan negro, lesbian, dan feminis, lalu ia hadir dalam ruang publik kita. Apa yang akan terjadi jika dia hidup di dunia dimana feminis dianggap hantu dan patriarki senormal oksigen? Saya memandang dunia dalam perspektif pesimistis Sartre. Dunia ini sudah terlalu patriarkis dan male-centered. Butuh perjuangan lebih besar dan mendasar dari gerakan-gerakan perempuan. Sebabnya, kapitalisme yang menyebabkan penindasan terhadap perempuan memakai jubah baru yang lebih kompleks dan lebih kontradiktif untuk melanggengkan nilai patriarkisnya: budaya populer. Budaya populer memang suatu terminologi yang luas. Budaya populer menandakan kuasa kapital terhadap selera masyarakat yang diturunkan untuk kepentingan pemodal. Begitu pun persoalan perempuan; ia nyaris dihilangkan dalam wacana budaya populer. Contohnya beragam, mulai dari pelecehan verbal dalam acara lawak televisi hingga pengkultusan perempuan dalam ruang domestik melalui acara gosip. Namun, dalam tulisan ini akan saya sempitkan dalam hal budaya visual: musik video, khususnya dalam melakukan transmisi ide berkenaan dengan feminisme dan objektifikasi perempuan.

Tubuh Perempuan Milik Siapa?

Oleh: Bhadrika Dirgantara, mahasiswa FISIP UI dan anggota Serikat Mahasiswa Progresif UI

Suatu hari di kampus, dalam perbincangan ngalor-ngidul bersama teman-teman perempuan sejurusan, saya tiba-tiba menanyakan sebuah pertanyaan yang melintas begitu saja di benak. Pertanyaan ini sederhana. Sesuatu yang, menurut saya, seharusnya telah diketahui tiap orang. Pertanyaan tersebut ialah, “Tubuhmu milik siapa?” Ternyata, jawaban yang saya dapat tidak sesederhana yang saya kira. Beberapa teman berpikir cukup lama. Perbincangan kemudian mulai berkembang. Satu orang menjawab tubuhnya milik orangtua karena ia dilahirkan dari rahim dan benih mereka. Satu orang menjawab tubuhnya milik masyarakat karena ia tidak memiliki kehendak bebas untuk mengatur dirinya sendiri. Sisanya, sekitar lima hingga enam orang, menyatakan bahwa tubuhnya ialah milik Tuhan. Tuhan telah memberikan tubuh yang sifatnya pinjaman. Tubuh milik Tuhan ini tidak boleh dirusak dan harus digunakan sesuai aturan Tuhan. Pada akhirnya, saya berpikir bahwa dari sekumpulan mahasiswi itu, tidak ada yang berpikir bahwa tubuhnya adalah miliknya. Tidak ada yang berpikir bahwa tiap diri memiliki otoritas atas tubuhnya sendiri.

Minggu, 20 April 2014

Surat Untuk Kartini

Dari Seorang Kawanmu

Kepada Kawan Kartini
Semoga kamu dalam keadaan baik di sisi Tuhanmu.

Kawan,
Saya memang seorang laki-laki, yang sering kau sangka bagian dari penindas dan pengekang bagi perempuan. Namun, di sini saya berusaha meyakinkanmu, tidak dalam posisi itu. Saya sepakat dengan ide dan perjuanganmu, bahwa dalam kehidupan kapitalisme ini perempuan menjadi bagian yang paling sering ditindas dan dipinggirkan. Bahkan, saya sepakat dengan ide untuk membebaskan perempuan dari belenggu ini, baik dari adat dan agama.