Tampilkan postingan dengan label Mitrardi Sangkoyo. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Mitrardi Sangkoyo. Tampilkan semua postingan

Senin, 20 April 2015

Negara Terperangkap?: Jebakan Business Confidence dan Kekuatan Struktural Kapital

Oleh Mitrardi Sangkoyo dan Dicky D. Ananta
Mahasiswa Ilmu Politik UI dan Anggota SEMAR UI

Pendahuluan
Kamis, 16 April 2015, lagi-lagi untuk ke sekian kalinya gugatan rakyat dikalahkan oleh kepentingan bisnis. Hampir setahun ini masyarakat Rembang menggugat secara hukum pendirian pabrik semen yang telah “merampas” tanah pertanian mereka. Namun di akhir putusan, keadilan yang diharapkan ternyata tak kunjung datang, justru putusan hakim memperkuat dan mempertegas adanya pendirian pabrik semen, yang tidak hanya merugikan secara sosial, tetapi juga secara ekologis.

Sabtu, 28 Februari 2015

Inheritors of Loss: The ‘Midas Touch’ of Gold-Mining in the Northern Slope of Mount Halimun, West Java, and its Social-Ecological Implications

Mitrardi Sangkoyo

"The names of people in this essay have been altered, but their stories are real, gathered from interviews and conversations during several trips to the Mountain. ‘Asep,’ the late ‘Ujang,’ ‘Titin,’ and their histories really do exist, and somewhere along the northern slope of Mount Halimun, you will find a ‘Munjung’ and its grief-laden family of miners. The insertion of a narrative—a snippet, so to speak—of the daily experience of commoners is for the sole purpose of bringing back in a long-ignored detail in political science: that of the human factor."

           Asep ke masjid dulu.”[1]
          The words came out almost incomprehensible, but with conviction. Asep squeezed his mother’s hand and gave her a gentle kiss (it’s alright), gave his father a slow nod, opened the door, and walked out.
            The tears would not come. Nor would he let them—not yet.
            “Lā ḥawla wa lā quwwata illā billāh,”[2] he whispered.
            The words rang hollow in the chill of the night.

Selasa, 14 Januari 2014

Batavia Onder Water

Mitrardi Sangkoyo, Ilmu Politik UI 2011 dan Anggota SEMAR UI

Pernah dimuat di Buletin 'Grayscale' Himpunan Mahasiswa Ilmu Politik (HMIP) edisi 8, Oktober-Februari 2012-2013. Dimuat ulang disini untuk tujuan pendidikan


We're not scaremongering
This is really happening
– Radiohead, Idioteque


Banjir di Jakarta adalah krisis yang sifatnya berulang dan sistemik, yang tidak bisa dilihat secara simplistis. Oleh karenanya, ia harus diperiksa sebagai sebuah gejala dalam lintasan sejarah sosial dan ekologis.

Rabu, 01 Januari 2014

MP3EI Ditinjau dalam Kerangka Kapitalisme Global

Oleh: Dicky Dwi Ananta, Mitrardi Sangkoyo, Robie Kholilurrahman,

Pendahuluan

Pemerintah, melalui Peraturan Presiden Nomor 32 Tahun 2011, telah menetapkan Masterplan Percepatan dan Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia (MP3EI) untuk menjadi arah pembangunan ekonomi Indonesia hingga tahun 2025. MP3EI diyakini sebagai konsep yang komprehensif dengan memadukan berbagai potensi wilayah Indonesia dari Sabang sampai Merauke. Muatan utama MP3EI seperti yang disampaikan oleh Presiden Susilo Bambang Yudoyono dalam pengantar peraturan presiden tersebut adalah debottlenecking, percepatan dan perluasan pembangunan ekonomi nasional.[1] Bila diringkas maka esensi di dalamnya antara lain; pengembangan potensi daerah melalui koridor ekonomi, konektivitas nasional melalui sinkronisasi rencana aksi nasional terkait infrastruktur dan regulasi, dan kemitraan dengan dukungan pihak swasta melalui public private partnership. Pada bagian awal, kami akan menunjukkan logika dari MP3EI yang tertuang dalam dokumen aslinya.