Tampilkan postingan dengan label teori. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label teori. Tampilkan semua postingan

Senin, 20 April 2015

Negara Terperangkap?: Jebakan Business Confidence dan Kekuatan Struktural Kapital

Oleh Mitrardi Sangkoyo dan Dicky D. Ananta
Mahasiswa Ilmu Politik UI dan Anggota SEMAR UI

Pendahuluan
Kamis, 16 April 2015, lagi-lagi untuk ke sekian kalinya gugatan rakyat dikalahkan oleh kepentingan bisnis. Hampir setahun ini masyarakat Rembang menggugat secara hukum pendirian pabrik semen yang telah “merampas” tanah pertanian mereka. Namun di akhir putusan, keadilan yang diharapkan ternyata tak kunjung datang, justru putusan hakim memperkuat dan mempertegas adanya pendirian pabrik semen, yang tidak hanya merugikan secara sosial, tetapi juga secara ekologis.

Selasa, 10 Maret 2015

Materialisme Historis: Metode Analisa Sosial Marxis

Mohamad Zaki Hussein
Editor IndoProgress dan Anggota Partai Rakyat Pekerja

Dalam ilmu sosial, ada beragam metode analisa sosial. Tiap metode memiliki asumsi-asumsi teoritis tertentu tentang hakikat dasar masyarakat (ontologi sosial). Demikian pula dengan Marxisme sebagai metode analisa sosial. Asumsi ontologi sosial dari metode analisa Marxis adalah materialisme historis. Di sini, kita akan membahas dua teori pokok materialisme historis, yaitu pertama, teori tentang hubungan antara masyarakat/struktur sosial dengan individu/agensi, dan kedua, teori tentang relasi antara infrastruktur (ekonomi) dengan suprastruktur (politik, budaya, hukum, dst.).

Kamis, 10 April 2014

Marx dan Marxisme : Kritik terhadap Kritik terhadap Marxisme

Pernah diterbitkan sebelumnya di laman PRP Makassar. Dimuat ulang disini untuk tujuan pendidikan

Pendahuluan

Satu ketidakadilan utama yang sering dibuat orang Indonesia terhadap Marx dan pemikiran-pemikirannnya adalah bahwa orang Indonesia amat gemar mengritik Marx tanpa membaca sendiri karya-karya Marx secara langsung.

Jumat, 14 Maret 2014

Masalah Kelas dalam Ilmu Sosial Indonesia

Oleh Hilmar Farid*  
Sejarawan

Pernah dimuat di link http://www.scribd.com/doc/42568791/Masalah-Kelas-Dalam-Ilmu-Sosial. Dimuat ulang disini dengan persetujuan penulis dan untuk tujuan pendidikan.

Pengantar


Setiap orang yang ingin menulis tentang masalah kelas di Indonesia tentu akan segera menyadari betapa langkanya literatur mengenai topik tersebut. Kelangkaan itu begitu hebat sehingga seorang mahasiswa undergraduate yang baru mulai belajar tentang Indonesia pun dengan mudah dapat menyorotinya (Levine 1969). Ia menilai para sarjana di zaman itu hanya sibuk dengan perkembangan politik harian di parlemen, partai politik dan birokrasi pemerintah. Buruh, petani, pengangguran, kelas menengah perkotaan dan pedagang atau tuan tanah kecil hanya sesekali tampil dalam tulisan mereka sebagai ‘massa’. Walau hanya berbicara tentang dunia akademik di Amerika dan Australia, kritik itu jelas berlaku untuk ilmu sosial di Indonesia sendiri. Beberapa tahun kemudian Benedict Anderson – seorang sarjana terkemuka dalam studi Indonesia – sambil lalu mengatakan bahwa ada beberapa karya “yang menunjukkan bahwa seruan Levine (untuk memperhatikan kelas) tidak sepenuhnya diabaikan (Anderson 1982: 89). Tidak jelas karya dan penulis mana yang dimaksud, tapi pencarian sederhana dalam database elektronik atau katalog perpustakaan saya kira membuktikan bahwa tak seorang pun yang dibayangkan Anderson dalam komentar pendek itu adalah ilmuwan Indonesia.

Senin, 21 Oktober 2013

Nilai-lebih (Surplus-Value) sebagai Sumber Keuntungan Kapitalis

Oleh Rio Apinino

Salah satu tuntutan yang seringkali diperjuangkan kelas pekerja di seluruh dunia, utamanya kelas pekerja di negara berkembang, adalah upah yang layak. Hal ini pula yang kemudian menjadi salah satu tuntutan utama MOGOK NASIONAL yang akan dilaksanakan kaum buruh di seluruh Indonesia pada tanggal 28 sampai dengan 30 Oktober 2013 selain tuntutan penyelenggaraan jaminan sosial bagi seluruh rakyat serta penghapusan sistem kerja kontrak dan outsourcing. Hal ini tentu bukan tanpa dasar. Di tengah inflasi yang semakin mencekik, harga-harga yang terus meroket dan ketidakpastian hidup ditengah lautan kapitalisme yang memiliki eses krisis yang terus berulang, upah bagi buruh cenderung stagnan. Sedangkan di satu sisi, kontribusi buruh terhadap ekonomi Indonesia selama ini cenderung meningkat[1].

Kamis, 26 September 2013

Tiga Fondasi Marxisme

Oleh Rio Apinino
Sekjen SEMAR UI

Marxisme menjadi desas-desus. Ia dibenci karena alasan yang tidak jelas, juga disuka karena alasan yang sama. Dibenci, karena umum meyakini bahwa marxisme adalah ajaran tentang anti tuhan –ateisme, yang tentu merupakan sebuah dosa, dan disukai, semata karena ajaran ini dilarang negara. Begitulah gambaran kasar tentang marxisme hari ini di Indonesia. Merupakan hal yang sangat naif, tentu. Sementara marxisme dalam gerak sejarah telah membuktikan diri sebagai ilmu pengetahuan yang revolusioner dan menjadi landas gerak berbagai macam revolusi yang pernah terjadi, di tempat lain marxisme masih sebatas gosip. Dan disitulah kita sedang berpijak sekarang. Tentu tempat ini harus diberikan lampu, atau minimal obor, agar marxisme tidak berada di ruang gelap dan menjadi terang dan jelas –sejelas-jelasnya.

Jumat, 20 September 2013

Mahasiswa-Buruh-Kapitalis Tidak Kemana-Mana, Karena Ia Dimana-Mana[1]


Hizkia Yosie Polimpung
Peneliti di Pacivis—Pusat Kajian Global Civil Society, Universitas Indonesia. Pegiat Kelompok Diskusi Sabtuan Hubungan Internasional Kontemporer. Kontak: yosieprodigy@live.com

Memahami, apalagi mengkoreografikan suatu pergerakan sosial-politik hari ini, tidak bisa tidak, harus diletakkan dalam situasi dan kondisi relasi sosial politik yang sedang terjadi, yang really existing. Relasi sosial politik tersebut tidak lain adalah jutaan relasi mikro yang terkandung dalam konsep besar nan abstrak: kapitalisme neoliberal.[1] Ini penting untuk senantiasa menancapkan gerakan tersebut dalam konteks kesejarahannya yang spesifik. Tanpa ini, maka gerakan tersebut tidak lebih dari suatu gerakan reaksioner emosional (bahkan tidak sedikit yang mesianik) yang sama sekali ahistoris. Sehingga praktis, seluruh gerakan sosial politik yang tidak disertai dengan pemahaman memadai tentang relasi sosial politik ini hanya merepetisi ungkapan William Shakespeare, “much ado about nothing”—yang ironisnya dilakukan demi menghindari tuduhan sinis NATO (No Action Talk Only). Hal ini juga tidak mengecualikan gerakan mahasiswa, yang menjadi subyek pembahasan kali ini.

Rabu, 18 September 2013

Krisis Mata Uang Rupiah 2013: Penyebab dan Dampaknya

Merupakan bahan diskusi publik SEMAR UI pada 17 September 2012 dengan tema "Hari Tani, Inflasi, dan Penyatyan Gerakan"
Dimuat disini untuk tujuan pendidikan

Oleh: Mohamad Zaki Hussein
Anggota Partai Rakyat Pekerja (PRP)

Sejak Juni 2013, nilai tukar Rupiah cenderung melemah. Hal yang sama juga dialami oleh mata uang beberapa negara emerging markets (negara berkembang yang sedang mengalami pertumbuhan ekonomi dengan cepat) lainnya. Selama Juni-Agustus 2013, nilai tukar Lira Turki jatuh sebesar 10 persen; nilai tukar Rupee India jatuh sebesar 20 persen; dan nilai tukar Rupiah serta Real Brazil jatuh sekitar 15 persen.[1] Trend melemahnya nilai tukar mata uang beberapa negara emerging markets selama Juni-Agustus 2013 bisa dilihat dalam grafik di bawah ini:

Senin, 26 Agustus 2013

Kelas Sosial dan Perjuangan Kelas[1]

Oleh Rio Apinino
Mahasiswa Sastra UI
Salah satu aspek penting dalam  Marxisme adalah analisisnya tentang kelas. Pendekatan kelas yang merupakan prinsip metodologi Marxisme ini mengasumsikan masyarakat terbagi ke dalam kelas-kelas yang pada dasarnya saling bertentangan. Marxisme menjelaskan secara ilmiah bagaimana kelas-kelas ini secara historis terbentuk, alasan-alasan kemunculannya dan bagaimana cara melenyapkannya sebagai jawaban atas emansipasi manusia sejati.

Jumat, 23 Agustus 2013

Materialisme Dialektika Sebagai Inti Filsafat Marxis

oleh Rio Apinino*
Marxisme adalah sebuah filsafat yang berintikan materialisme dan dialektika. “Materialisme adalah konsepsi filsafat marxis, sedang dialektika adalah metodenya” –demikian tutur Njoto pada tahun 1961[1]. Dalam tulisan ini saya akan memaparkan materialisme dan dialektika (dialectical materialism –diamat) tersebut.

Selasa, 20 Agustus 2013

Marhaenisme dan Marxisme

Oleh Rio Apinino*

Tanggapan Untuk Iqbal Pirzada dalam Tulisannya Marhaenisme

Dalam tulisan ini saya bukan bermaksud ingin menjabarkan lebih lanjut marhaenisme an sich, namun mencoba menilai bagaimana marhaenisme di luar dari sekedar jargon-jargon perekat massa. Marhaenisme yang dipercaya sebagai penerapan marxisme dalam alam Indonesia akan saya bandingkan dengan marxisme itu sendiri. Dalam pada itu diskusi pembuka sudah cukup baik dimulai oleh comrade Iqbal Pirzada dalam tulisannya berjudul “Marhaenisme”. Tulisan ini juga merupakan kritik atas pandangan Iqbal tentang marhaenisme.

Senin, 19 Agustus 2013

Marhaenisme

Oleh M. Iqbal Pirzada*

Menurut sumber yang ada, kata marhaenisme diambil dari nama seorang petani yang secara tidak sengaja ditemui oleh Soekarno di daerah Cigereleng, Bandung[1]. Petani tersebut memiliki tanah, alat-alat pertanian, bibit dan pupuk untuk bertani. Akan tetapi, Marhaen, sang petani, tetap merupakan orang miskin. Dari sini Soekarno merasa heran karena meski memiliki alat produksi dan lahan sendiri untuk bertani, petani tersebut tetap miskin. Soekarno kemudian berfikir bahwa kemiskinan yang dialami oleh Marhaen disebabkan oleh sistem yang ada, yaitu sistem imperialisme dan kapitalisme saat itu. Soekarno kemudian melihat bahwa masyarakat Indonesia itu bukan kaum proletar, karena mereka memiliki alat produksi dan tanah sendiri, akan tetapi penghasilan mereka tetap kecil karena penjajahan yang menimpa Indonesia.

Senin, 12 Agustus 2013

Tan Malaka: Ontologi Epistemologi dan Aksiologi Pemikirannya

Oleh Rio Apinino*  

Sosok Tan Malaka merupakan salah satu pahlawan nasional yang tidak bisa diragukan lagi kontribusinya bagi kemerdekaan Indonesia. Perjalanan hidup yang saat ini bisa kita baca melalui karya-karyanya seperti dari penjara ke penjara membuat kita percaya bahwa seluruh hidup Tan hanya untuk kemerdekaan republiknya, Indonesia. Berbagai macam peristiwa penting bangsa inipun tak luput dari kontribusi Tan. Sebutlah bagaimana Naar De Republiek menjadi ‘buku panduan’ bagi Sukarno dan Hatta muda, juga banyak pemuda radikal lainnya. Buku ini sendiri menjelaskan pemikiran Tan mengenai bentuk negara kelak, republik. Adalah Tan yang pertama kali mengemukakan gagasannya mengenai bentuk republik ini, dan untuk itu dia dikenal dengan Bapak republik.