Tampilkan postingan dengan label Robie Kholilurrahman. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Robie Kholilurrahman. Tampilkan semua postingan

Minggu, 15 Juni 2014

AADH (Ada Apa Dengan HAM)

Robie Kholilurrahman, anggota SEMAR UI dan Aliansi Mahasiswa dan Alumni UI untuk Demokrasi

Kata Fadli Zon, “Rakyat tidak makan HAM, tapi makan nasi.” Benarkah begitu? Dan mengapa Ia (sebagai Waketum Partai Gerindra, Sekretaris Tim Pemenangan Prabowo-Hatta, dan sekaligus Pendamping Setia Prabowo) sampai mengeluarkan pernyataan seperti itu?

Rabu, 01 Januari 2014

MP3EI Ditinjau dalam Kerangka Kapitalisme Global

Oleh: Dicky Dwi Ananta, Mitrardi Sangkoyo, Robie Kholilurrahman,

Pendahuluan

Pemerintah, melalui Peraturan Presiden Nomor 32 Tahun 2011, telah menetapkan Masterplan Percepatan dan Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia (MP3EI) untuk menjadi arah pembangunan ekonomi Indonesia hingga tahun 2025. MP3EI diyakini sebagai konsep yang komprehensif dengan memadukan berbagai potensi wilayah Indonesia dari Sabang sampai Merauke. Muatan utama MP3EI seperti yang disampaikan oleh Presiden Susilo Bambang Yudoyono dalam pengantar peraturan presiden tersebut adalah debottlenecking, percepatan dan perluasan pembangunan ekonomi nasional.[1] Bila diringkas maka esensi di dalamnya antara lain; pengembangan potensi daerah melalui koridor ekonomi, konektivitas nasional melalui sinkronisasi rencana aksi nasional terkait infrastruktur dan regulasi, dan kemitraan dengan dukungan pihak swasta melalui public private partnership. Pada bagian awal, kami akan menunjukkan logika dari MP3EI yang tertuang dalam dokumen aslinya.

Sabtu, 31 Agustus 2013

SELAMAT PAGI

oleh Robie Kholilurrahman*

Selamat pagi orang-orang marjinal, yang tiap hari terpapar lifestyle mewah, menyakitimu, membuatmu berpikir untuk menirunya bagaimanapun jua, hanya sekadar supaya bisa sama.

Selamat pagi orang-orang tidak terkenal, yang tiap hari disajikan tontonan yang tak kau mau; cerita-cerita tentang orang-orang terkenal yang karena diceritakan, makin terkenal-lah mereka. Sedangkan kau, hanya menonton membuatmu semakin tidak terkenal.

Selamat pagi para buruh, yang kemanusiaanmu kau gadaikan hanya demi kunyah dan se-gemerincing rupiah untuk orang rumah. Yang jam kerjamu memenjarakanmu dari berkumpul dan bersosialisasi, yang karena kau buruh, barang yang kau produksi adalah sangat jauh dari dirimu walau ia tiap hari menyambangi tanganmu.

Selamat pagi para perempuan, yang terlahir di dunia lelaki, yang mencap hitam keningmu tanpa kau mau, dengan tulisan 'ini perempuan'.

Selamat pagi para pemulung, yang dibilang pemalas oleh para mahasiswa, padahal jika kau mogok kerja, mereka kelimpungan di kepung sampah.

Selamat pagi mahasiswa, yang chauvinis, congkak, dan banyak omong (kosong) padahal oportunis.

Selamat pagi kau, yang mengusik pikirku malam tadi.

Selamat pagi diri, yang sulit sekali mengucapkan selamat pagi dengan cara yang lebih sederhana dari ini. 

_________

*Mahasiswa FISIP UI 2010. Beredar di twitland dengan ID @rkholil

Rabu, 14 Agustus 2013

Safari Perubahan Part II: Social Enterpreneurship

Oleh Robie Kholilurrahman*

[continuation]

Social Enterpreneurship

"Menyimpulkan diskusi ini, ya ini lah sebenar-benarnya social enterpreneurship!" Tukas Pak Din, membawa diskusi kami di malam larut yang dingin di lereng Merbabu tersebut, ke sebuah akhir dan titik terang. Tak lupa disertai dengan kekeh tawanya yang khas.

Senin, 12 Agustus 2013

Safari Perubahan Part I: Qaryah Thayyibah

oleh Robie Kholilurrahman*

Sudah berapa lama saya tertarik pada gerakan kelas pekerja kontemporer di Amerika Latin, di antaranya gerakan kaum tani di Bolivia dan gerakan kaum adat Zapatista di Meksiko. Federasi petani kakao di Bolivia berhasil merebut tampuk kepemimpinan nasional dengan menempatkan jagoannya, Evo Morales, sebagai presiden. Zapatista (Tentara Pembebasan Nasional Zapatista) dianggap sebagai gerakan antiglobalisasi pasca modern dengan perhatiannya yang besar terhadap penggunaan teknologi komunikasi dan informasi. Melalui internet dan komunike-komunikenya mereka mendulang dukungan global yang masif.