Tampilkan postingan dengan label Bayu Baskoro. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Bayu Baskoro. Tampilkan semua postingan

Jumat, 26 Desember 2014

Generasi Muda: Ayo, Hilangkan Budaya Orde Baru!


Oleh Bayu Baskoro Febianto dan Dicky D. Ananta

Rezim Orde Baru yang dipimpin oleh Soeharto masih dianggap oleh sebagian masyarakat sebagai zaman pembangunan di Indonesia. Hal yang mudah diingat adalah zaman yang serba murah, stabil, dan aman. Begitu setidaknya yang sering saya dengar dari orang-orang tua di sekitar tempat tinggal. Romantisme masa lalu untuk membangkitkan semangat Soeharto selama 32 tahun, dihembuskan dengan kalimat pertanyaan yang singkat “Piye kabare? Isih penak jamanku to?”, yang makin banyak bermunculan di berbagai tempat. Hingga saat ini, pembangunan yang dicapai dengan kestabilan ekonomi dan politik itulah yang dijadikan tolak ukur perjuangan mencapai kesejahteraan bagi masyarakat Indonesia.

Selasa, 23 Desember 2014

Marxisme yang Belum Habis Masanya


Oleh Bayu Baskoro Febrianto


Judul buku : Why Marx Was Right
Penulis : Terry Eagleton
Penerbit : Yale University Press, 2011
Tebal : 239 halaman

“Belum ada seseorang dengan gerakan yang lebih gigih akan emansipasi perempuan, perdamaian dunia, perang melawan fasisme atau berjuang untuk kebebasan kolonial selain gerakan politik oleh Marxisme.” (Terry Eagleton)

DARI beberapa diskusi dengan kawan-kawan saya di kampus, banyak yang mengira Marxisme sudah habis relevansinya dan tidak dapat digunakan kembali dalam suatu pemerintahan. Kesimpulan ini muncul karena mayoritas menganggap bahwa dengan hancurnya negara-negara komunis di dunia, khususnya hancurnya kedigdayaan Uni Soviet di tahun 1992, maka Marxisme telah gagal dalam pengaplikasiannya di dalam suatu sistem pemerintahan. Dengan kata lain, ada yang salah di dalam Marxisme sebagai suatu ajaran dan ideologi. Selain ideologi yang dianggap telah berakhir, banyak mitos lain yang muncul di masyarakat terkait Marxisme. Misalnya, sering kita dengar bahwa cita-cita Marxisme akan masyarakat komunis adalah utopis; Marx mereduksi segalanya ke dalam tatanan ekonomi semata; Marxisme menghilangkan nilai spiritualitas dan lain-lain.