Tampilkan postingan dengan label Orde Baru. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Orde Baru. Tampilkan semua postingan

Minggu, 01 Februari 2015

Wacana Rambut Gondrong dan Instabilitas Nasional

Oleh Ausof Ali Athiyyah

Judul Buku      : Dilarang Gondrong! Praktik Kekuasaan Orde Baru Terhadap Anak 
  Muda Awal 1970-an
Penulis             : Aria Wiratma Yudhistira
Penerbit           : Marjin Kiri,
Kota terbit       : Tangerang
Tahun terbit     : 2010
Tebal               : xxi + 161 Halaman


Sejarah adalah salah satu alat legitimasi kekuasaan. Perspektif penulisan sejarah yang dipilih akan menjadi akar identitas suatu kelompok masyarakat. Orde Baru mampu melanggengkan kekuasaannya selama 32 tahun di atas sebuah narasi sejarah yang mereka ciptakan sendiri dan mereka tanamkan sebagai sebuah kebenaran pada masyarakat Indonesia. Oleh karena itu, diperlukan sejarah alternatif yang menjadi pembanding bagi narasi sejarah Orde Baru. Pembanding ini diperlukan untuk melihat sisi lain dari narasi yang mereka bangun. Penulisan sejarah ‘tandingan’ ini adalah salah satu bentuk perlawanan terhadap hegemoni kekuasaan dan pengungkapan realita yang terjadi. Pada kesempatan ini saya akan mengulas sebuah buku berjudul Dilarang Gondrong! Praktik Kekuasaan Orde Baru Terhadap Anak Muda Awal 1970-an,sebuah buku yang mencoba menghadirkan sisi lain dari politik Orde Baru yang selama ini tercitrakan sebagai masa yang mengalami pertumbuhan ekonomi yang pesat.

Jumat, 26 Desember 2014

Generasi Muda: Ayo, Hilangkan Budaya Orde Baru!


Oleh Bayu Baskoro Febianto dan Dicky D. Ananta

Rezim Orde Baru yang dipimpin oleh Soeharto masih dianggap oleh sebagian masyarakat sebagai zaman pembangunan di Indonesia. Hal yang mudah diingat adalah zaman yang serba murah, stabil, dan aman. Begitu setidaknya yang sering saya dengar dari orang-orang tua di sekitar tempat tinggal. Romantisme masa lalu untuk membangkitkan semangat Soeharto selama 32 tahun, dihembuskan dengan kalimat pertanyaan yang singkat “Piye kabare? Isih penak jamanku to?”, yang makin banyak bermunculan di berbagai tempat. Hingga saat ini, pembangunan yang dicapai dengan kestabilan ekonomi dan politik itulah yang dijadikan tolak ukur perjuangan mencapai kesejahteraan bagi masyarakat Indonesia.