Tampilkan postingan dengan label Rio Apinino. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Rio Apinino. Tampilkan semua postingan

Kamis, 21 Mei 2015

Catatan Kecil Tentang Reformasi dan Aksi Protes Mahasiswa

Oleh Rio Apinino, Alumni Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Angkatan 2010

21 Mei. Sejak tahun 1998, tanggal tersebut  selalu diperingati sebagai hari reformasi. Tanggal tersebut menjadi penanda bagi munculnya kondisi sosial politik baru setelah Indonesia terperangkap oleh rezim militer-fasis-patriarkis-penjahat HAM selama 30 tahun lebih. Sebab reformasi belum usia, begitu tema umum yang selalu diulang-ulang banyak gerakan rakyat –termasuk mahasiswa di dalamnya- untuk memperingati tanggal tersebut. Tidak terkecuali dengan tahun ini. Berbagai aksi-aksi dipastikan akan terjadi besok (hari ini), dan aksi-aksi lain yang telah dilakukan pada hari-hari sebelumnya.

Kamis, 18 September 2014

Demokratisasi Kampus: Tawaran Strategis untuk Gerakan Pengawalan Isu Kampus

Oleh Rio Apinino dan Dicky D. Ananta

Pemilihan Rektor Universitas Indonesia sebentar lagi akan dilaksanakan. Berdasarkan Statuta UI (PP No. 68 Tahun 2013) dimana pemilihan Rektor harus dilaksanakan maksimal satu tahun semenjak statuta disahkan, maka selambat-lambatnya pemilihan Rektor harus dilaksanakan pada bulan Oktober ini. Berdasarkan informasi dalam laman HaloPilrek,[1] mekanisme pemilihan rektor adalah pertama-tama pembentukan Pantita Penjaringan dan Penyaringan Calon Rektor (P3CR) oleh Majelis Wali Amanat (MWA) yang memiliki peran aktif untuk menjaring bakal calon rektor. P3CR kemudian melakukan serangkaian seleksi untuk menyaring nama bakal calon Rektor yang telah mendaftar menjadi hanya tujuh orang. Setelah tersaring sebanyak tujuh orang, maka tugas P3CR diambilalih sepenuhnya oleh MWA yang akan menyaring kembali kandidat menjadi hanya tiga orang, dan selanjutnya menetapkan Rektor terpilih. Serangkaian acara tersebut ditargetkan akan selesai pada akhir November 2014.

Senin, 14 Juli 2014

Kalau Jokowi Menang, Lalu Apa?

Oleh Rio Apinino, Sekjen SEMAR UI

Pemilihan Presiden kali ini sedikit berbeda dengan pemilihan-pemilihan sebelumnya. Dalam Pilpres kali ini, hanya ada dua calon presiden yang mewakili dua kecenderungan yang berbeda: Prabowo dengan kecenderungan otoritarian (bahkan fasis) ala Orde Baru, dengan Jokowi dengan kecenderungan yang lebih demokratis.[1] Menghadapi fakta tersebut, berbagai gerakan sosial, baik yang pernah terlibat aktif dalam pengorganisiran melawan Orde Baru maupun yang tidak terlibat langsung tetapi mengetahui bagaimana Orde Baru bekerja melalui berbagai bacaan, dengan berbagai cara berusaha menghadang Prabowo untuk menempati posisi RI 1. Agendanya jelas, agar sisa-sisa Orde Baru yang ter-representasikan dalam dirinya tidak bangkit lagi dan transisi menuju Indonesia yang lebih demokratis terus berlanjut. Meskipun, misalnya, bila Jokowi menang-pun transisi demokrasi belum tentu akan lebih maju dari apa yang telah dicapai saat ini, tetapi hal tersebut tentu saja lebih baik daripada mundur ke belakang. Lebih baik jalan di tempat daripada terlempar lagi ke masa lalu, begitu kira-kira posisi politik saya sebelum saya berargumen lebih lanjut.

Jumat, 16 Mei 2014

Bangun Kekuatan Alternatif: Bagaimana Memanfaatkan Pemilu 2014 untuk Pembangunan Organisasi Politik Alternatif Rakyat Pekerja


Oleh: Rio Apinino, Sekjen SEMAR UI

Jatuhnya rezim otoritarianisme Suharto pada tahun 1998 memberikan setitik harapan bagi kehidupan yang lebih baik di Indonesia. Selama 32 tahun Suharto berkuasa, rakyat Indonesia hidup dalam cengkeraman represi dan ketidakbebasan, baik ketidakbebasan politik maupun ketidakbebasan ekonomi karena sumber daya yang hanya dikuasai segelintir elit Cendana dan klan-klan bisnis yang dekat dengannya. Saat ini, dimana kebebasan politik sudah relatif lebih mudah dapat diperoleh, dimana rakyat dapat lebih leluasa mengkritik pemerintahan yang dianggap tidak berpihak pada rakyat atau bahkan dirinya sendiri masuk ke dalam lingkaran kekuasaan melalui partai politik (tentunya,  partai politik borjuis), ternyata kebebasan ekonomi belum sepenuhnya dapat diperoleh rakyat. Yang dimaksud dengan kebebasan ekonomi ini tentu bukanlah kebebasan untuk melakukan usaha-usaha untuk memperoleh keuntungan, melainkan terpenuhinya kebutuhan hidup yang wajar –sandang, pangan dan papan.


Jumat, 21 Maret 2014

Sekali Lagi Tentang Pengawalan Pemilu

Oleh Rio Apinino, Sekjend SEMAR UI

Sebuah tanggapan untuk tulisan “Mengawal Pemilu Dengan Bijak: Melihat Kembali Peran BEM UI”[1]

Salah satu hal yang hilang dalam gerakan mahasiswa saat ini adalah hampir tidak adanya perdebatan yang serius, yang mencakup perdebatan ideologis dan substantif tentang visi gerakan mahasiswa. Miskinnya perdebatan tersebut, sedikit banyak mempengaruhi stagnansi dari gerakan mahasiswa itu sendiri. Tentu, selain daripada hilangnya tradisi perdebatan, masih banyak hal lain yang bisa ditunjuk untuk menjadi tersangka dalam tidak signifikannya gerakan mahasiswa dewasa ini. Dengan demikian, jika gerakan mahasiswa masih berharap pada masa depan mereka yang lebih baik, setidaknya tradisi perdebatan harus dimulai kembali, selain daripada pekerjaan rumah lain yang juga harus secara paralel dilakukan.

Kamis, 20 Maret 2014

Penghancuran Buku dalam Sejarah Umat Manusia

Oleh Rio Apinino, Sekjend SEMAR UI

Pernah dimuat di jurnal IndoPROGRESS rubrik Left Book Review (LBR). Dimuat disini untuk tujuan pendidikan 

Judul Buku: Penghancuran Buku dari Masa ke Masa
Penulis: Fernando Baez
Penerjemah: Lita Soerjadinata
Penerbit: Marjin Kiri, 2013
Tebal: vxiii+373 halaman



‘Dimanapun mereka membakar buku,
pada akhirnya mereka akan membakar manusia.’
-Heinrich Heine

‘MENGAPA manusia menghancurkan buku?’ Pertanyaan ini adalah pertanyaan yang selalu hadir dalam setiap zaman, dalam setiap konteks sosial historis yang pernah ada, semenjak manusia mengenal cara merekam pengetahuan yang dimilikinya dalam media tertentu. Kini pertanyaan ini kembali mengemuka ketika beberapa waktu lalu terjadi peristiwa yang merupakan repetisi dari segala jaman yang merasa terganggu dengan lahirnya pengetahuan tertentu: pelarangan mendiskusikan buku tentang Tan Malaka oleh sekelompok ormas yang mengatasnamakan Pancasila dan Islam. Meskipun pelarangan mendiskusikan buku tersebut tidak diikuti dengan penghancuran buku dimaksud, tetapi pada akhirnya peristiwa tersebut adalah suatu contoh bagaimana buku menjadi arena kontestasi antara arus utama dan the others, antara kelas yang berkuasa dan kelas yang dikuasai, antara keperluan untuk melanggengkan hegemoni dan upaya untuk menggugat status quo.

Selasa, 11 Maret 2014

Tentang Advokasi “Mengawal Pemilu”

Oleh Rio Apinino, Sekjend SEMAR UI


Rakyat nonton jadi suporter, kasih semangat jagoannya
Walau tahu jagoannya ngibul, walau tahu dapur gak ngebul
Iwan Fals – Asik gak Asik

Pemilihan Umum 2014 segera tiba. Pada tanggal 9 April dan kemudian tanggal 9 Juli mendatang rakyat Indonesia akan berbodong-bondong menuju TPS untuk memilih anggota legislatif dan kemudian presiden. Terlepas dari motif masing-masing individu untuk memilih, apakah karena memang kesadaran politik yang tinggi dan beranggapan bahwa pemilu adalah ajang yang penting dan menentukan arah Indonesia 5 tahun setelahnya, ataukah karena keberhasilan partai politik menggaet massa melalui janji politik yang dilakukan ketika kampanye, toh kenyataannya yang benar-benar menang dalam pemilu adalah golongan putih (golput), setidaknya dalam beberapa kali pemilu terakhir pasca-orde baru. Komisi Pemilihan Umum mencatat bahwa golput, semenjak pemilu 1999, memang semakin menunjukkan kenaikan yang signifikan. Pemilu tahun 1999 diwarnai oleh 8 persen golput, 5 tahun setelahnya, naik drastis menjadi 23 persen, pada pemilu terakhir, tercatat 39 persen rakyat yang memiliki hak pilih memilih golput. Signifikannya massa golput inilah yang mendorong berbagai organisasi, baik institusi negara seperti KPU atau berbagai elemen di masyarakat, untuk melakukan berbagai kampanye agar masyarakat tidak golput. Selain itu, advokasi untuk pemilih agar memiliki akses untuk memilih juga menjadi fokus utama dari banyak organisasi, hal ini mengingat banyaknya kaum urban yang domisili dan tempat tinggal berdasarkan kartu penduduknya berbeda. Kedua hal inilah yang diadvokasi, khusnya oleh lembaga formal kemahasiswaan seperti Badan Eksekutif Mahasiswa UI. Tulisan ini sendiri dimaksudkan sebagai tinjauan kritis atas isu pemilu tersebut.

Jumat, 07 Februari 2014

Tentang Pembubaran Diskusi Buku Tan Malaka

Rio Apinino, Sekjend Semar UI

Lagi, peristiwa pembubaran terhadap diskusi-diskusi yang bernuansa 'kiri' kembali terjadi. Kali ini, pembubaran dilakukan oleh ormas yang mengatasnamakan Gerakan Umat Islam Bersatu (GUIB) di Surabaya. Sebelumnya, Yayasan Pustaka Obor berencana menggelar diskusi buku tentang Tan Malaka berjudul Tan Malaka, Gerakan Kiri, dan Revolusi Indonesia (jilid 4) yang ditulis oleh Harry A. Poeze, pada Jumat 7 Februari 2014 di perpustakaan C2O, Surabaya.[1] Latar belakang pembubaran, sebagaimana yang telah kita tebak, dianggap berusaha menyebarkan gagasan marxisme/komunisme pada masyarakat.

Sabtu, 18 Januari 2014

Kekuatan Teori Nilai Kerja Marx

Rio Apinino, Sekjend Serikat Mahasiswa Progresif (SEMAR) UI

Pernah dimuat di Jurnal IndoPROGRESS Rubrik Left Book Review (LBR) Edisi XVIII/2014. Di muat ulang disini untuk tujuan pendidikan

Judul Buku: Asal Usul Kekayaan: Sejarah Teori Nilai dalam Ilmu Ekonomi dari Aristoteles sampai Amartya Sen
Penulis: Martin Suryajaya
Peneribit: Resist Book, 2013
Tebal: xvi +368 Halaman 


PERSOALAN yang seringkali dihadapi oleh kalangan kiri, khususon Marxis, adalah bagaimana mengontekstualisasikan marxisme di era kontemporer. Persoalan ini menjadi sangat krusial karena marxisme semakin diragukan kebenarannya, terutama setelah Uni Sovyet runtuh dan propaganda yang terus menerus dari pihak lain. Salah satu aspek yang dianggap sebagai ‘keusangan’ marxisme adalah pembacaan yang sudah tidak lagi memadai terhadap kapitalisme kontemporer yang saat ini menjelma menjadi fenomena finansialisasi. Padahal, jika memahami logika kapital itu sendiri, bahwa ‘kapital beranak cucu kapital,’ maka kita akan dengan mudah mengatakan bahwa kapitalisme, dalam varian apapun, pada prinsipnya adalah persoalan akumulasi.

Minggu, 12 Januari 2014

Dua Problem Pokok Gerakan Mahasiswa

Rio Apinino, Sekjend SEMAR UI

Ada satu hantu yang sebentar lagi pensiun menggentayangi rezim: mahasiswa. Ketidakmampuan gerakan mahasiswa dalam mengartikulasikan gerakan di era pasca-reformasi, bagi penulis adalah karena masih terjebaknya mahasiswa di dalam mitos resi: bahwa mahasiswa adalah gerakan moral dan independen dari gerakan rakyat lain. Selain itu, kegagalan gerakan mahasiswa adalah juga akibat dari ketidakmampuan gerakan mahasiswa dalam membaca realitas ekonomi kapitalisme sebagai basis yang mengkondisikan struktur yang ada di atasnya –termasuk hukum, pendidikan, dan negara. Gerakan mahasiswa hari ini menempatkan berbagai masalah yang ada secara setara : tidak ada masalah yang menjadi induk dari masalah lainnya. Permasalahan ini yang akhirnya membuat visi gerakan mahasiswa menjadi tidak jelas dan berakhir pada kegalauan identitas dan gerakan pop yang saat ini menjadi semakin marak. Kedua masalah tersebutlah yang akan penulis uraikan lebih lanjut dalam esai ini.

Minggu, 24 November 2013

Pembacaan dan Labelisasi yang Serampangan

Oleh Rio Apinino
Sekjen SEMAR UI

Sebuah tanggapan untuk Shindu Pratomo 
KALAU saja Shindu Pratomo mau sedikit lebih banyak mencari, ia akan menemukan argumen-argumen yang dikemukakannya terkait mogok nasional yang baru selesai (dan sampai tulisan ini dibuat sebenarnya masih banyak perlawanan-perlawanan melalui mogok daerah) sama persis dan tercecer melalui muntahan-muntahan komentar dari kelas menengah melalui berbagai media: kicauan twitter, komentar di facebook dan berita online atau sekedar obrolan santai di Seven Eleven atau Lawson. Kemudian, jika Shindu juga mau mencari lebih banyak dan dalam sedikit lagi, ia juga akan menemukan  komentar-komentar –baik yang ilmiah maupun yang terhitung tidak ilmiah- yang mendukung gerakan buruh untuk menaikkan upah. Jadi, dalam tulisan ini saya tidak bermaksud mengomentari dan melakukan konter-kritik terkait tema itu. Selain karena pembahasan akan tidak menjadi fokus, juga saya maksudkan agar Shindu mencari anti-argumennya sendiri. 

Senin, 21 Oktober 2013

Nilai-lebih (Surplus-Value) sebagai Sumber Keuntungan Kapitalis

Oleh Rio Apinino

Salah satu tuntutan yang seringkali diperjuangkan kelas pekerja di seluruh dunia, utamanya kelas pekerja di negara berkembang, adalah upah yang layak. Hal ini pula yang kemudian menjadi salah satu tuntutan utama MOGOK NASIONAL yang akan dilaksanakan kaum buruh di seluruh Indonesia pada tanggal 28 sampai dengan 30 Oktober 2013 selain tuntutan penyelenggaraan jaminan sosial bagi seluruh rakyat serta penghapusan sistem kerja kontrak dan outsourcing. Hal ini tentu bukan tanpa dasar. Di tengah inflasi yang semakin mencekik, harga-harga yang terus meroket dan ketidakpastian hidup ditengah lautan kapitalisme yang memiliki eses krisis yang terus berulang, upah bagi buruh cenderung stagnan. Sedangkan di satu sisi, kontribusi buruh terhadap ekonomi Indonesia selama ini cenderung meningkat[1].

Rabu, 16 Oktober 2013

Gerwani dan Perjuangan Politik Perempuan

Rio Apinino, Sekjen SEMAR UI

Pernah dimuat dalam jurnal IndoPROGRESS rubrik Left Book Review Edisi XV/2013




Judul Buku: Penghancuran Gerakan Perempuan : Politik Seksual Di Indonesia Pasca Kejatuhan PKI
Penulis: Saskia Eleonora Wieringa
Penerbit: Penerbit GALANGPRESS (Anggota Ikapi)
Halaman: 542 halaman




BOLA mata para jendral dicungkil dari tempatnya, sekujur tubuhnya dikuliti dan kemaluan mereka dipotong. Mayat yang tak lagi utuh tersebut dikumpulkan dalam satu sumur mati di wilayah Lubang Buaya, Jakarta. Di atas sumur mati tersebut para wanita sundal menari ‘Tari harum Bunga’ dengan bugil merayakan kemenangan. Tarian setan tersebut diiringi lagu Gendjer Gendjer yang bernuansa mistis. Maka, lengkap sudah segala kegerian dimalam jahaman 1 Oktober 1965 tersebut.

Kamis, 26 September 2013

Tiga Fondasi Marxisme

Oleh Rio Apinino
Sekjen SEMAR UI

Marxisme menjadi desas-desus. Ia dibenci karena alasan yang tidak jelas, juga disuka karena alasan yang sama. Dibenci, karena umum meyakini bahwa marxisme adalah ajaran tentang anti tuhan –ateisme, yang tentu merupakan sebuah dosa, dan disukai, semata karena ajaran ini dilarang negara. Begitulah gambaran kasar tentang marxisme hari ini di Indonesia. Merupakan hal yang sangat naif, tentu. Sementara marxisme dalam gerak sejarah telah membuktikan diri sebagai ilmu pengetahuan yang revolusioner dan menjadi landas gerak berbagai macam revolusi yang pernah terjadi, di tempat lain marxisme masih sebatas gosip. Dan disitulah kita sedang berpijak sekarang. Tentu tempat ini harus diberikan lampu, atau minimal obor, agar marxisme tidak berada di ruang gelap dan menjadi terang dan jelas –sejelas-jelasnya.

Selasa, 10 September 2013

Kiri Islam dan Proyeksi Utopis Hassan Hanafi

Judul buku      : Kiri Islam: Antara Modernisme dan Posmodernisme
Penulis             : Kazuo Shimogaki
Penerbit           : Yogyakarta: LKiS, 2012
Tebal                : xxiv + 186 hal

Pernah dimuat di Jurnal IndoPROGRESS. di re-post disini untuk tujuan pendidikan 

MASALAH utama kemanusiaan saat ini adalah kemiskinan, kebodohan, dan penindasan. Islam, sebagai agama paripurna yang bukan hanya berisi aturan-aturan mengenai hubungan manusia dan Allah namun juga mengatur hubungan antara manusia dengan manusia lain, tentu diharuskan untuk menuntaskan masalah kemanusiaan yang ada. Menghadapi realitas seperti ini, Islam diberikan dua pilihan, menjadi seperti yang Marx katakan, candu dan membawa umat manusia, khususnya umat Islam, untuk bersabar dan ikhlas dengan kondisi ketertindasan yang ada serta pada akhirnya melanggengkan status quo; atau menjawabnya dengan menempatkan Islam sebagai agama pembebasan, agama yang menggali dan mewujudkan makna revolusioner dan berkonsekuensi untuk memihak kepada rakyat yang lemah dan tertindas.

Senin, 26 Agustus 2013

Kelas Sosial dan Perjuangan Kelas[1]

Oleh Rio Apinino
Mahasiswa Sastra UI
Salah satu aspek penting dalam  Marxisme adalah analisisnya tentang kelas. Pendekatan kelas yang merupakan prinsip metodologi Marxisme ini mengasumsikan masyarakat terbagi ke dalam kelas-kelas yang pada dasarnya saling bertentangan. Marxisme menjelaskan secara ilmiah bagaimana kelas-kelas ini secara historis terbentuk, alasan-alasan kemunculannya dan bagaimana cara melenyapkannya sebagai jawaban atas emansipasi manusia sejati.

Jumat, 23 Agustus 2013

Materialisme Dialektika Sebagai Inti Filsafat Marxis

oleh Rio Apinino*
Marxisme adalah sebuah filsafat yang berintikan materialisme dan dialektika. “Materialisme adalah konsepsi filsafat marxis, sedang dialektika adalah metodenya” –demikian tutur Njoto pada tahun 1961[1]. Dalam tulisan ini saya akan memaparkan materialisme dan dialektika (dialectical materialism –diamat) tersebut.

Selasa, 20 Agustus 2013

Marhaenisme dan Marxisme

Oleh Rio Apinino*

Tanggapan Untuk Iqbal Pirzada dalam Tulisannya Marhaenisme

Dalam tulisan ini saya bukan bermaksud ingin menjabarkan lebih lanjut marhaenisme an sich, namun mencoba menilai bagaimana marhaenisme di luar dari sekedar jargon-jargon perekat massa. Marhaenisme yang dipercaya sebagai penerapan marxisme dalam alam Indonesia akan saya bandingkan dengan marxisme itu sendiri. Dalam pada itu diskusi pembuka sudah cukup baik dimulai oleh comrade Iqbal Pirzada dalam tulisannya berjudul “Marhaenisme”. Tulisan ini juga merupakan kritik atas pandangan Iqbal tentang marhaenisme.

Kamis, 15 Agustus 2013

Gerakan Mahasiswa: Paradigma Kiri dan Demokrasi Liberal

Tanggapan Untuk Daya Cipta S dalam artikel Berjudul “Gerakan Mahasiswa, Paradigma Kekirian, dan Demokrasi”

Oleh Rio Apinino*

Gerakan mahasiswa selalu menjadi topik yang hangat untuk dibicarakan. Aspek-aspek kesejarahan hingga gerakan mahasiswa kekinian yang coba dikonseptualisasikan ulang agar sesuai dengan ‘semangat zaman’ menjadi topik yang paling sering diperbincangkan. Dalam usaha untuk mengkonseptualisasikan gerakan mahasiswa era reformasi inilah tulisan Saudari Daya Cipta hadir dengan beberapa gagasannya. Adapun tulisan ini dibuat sebagai kritik terhadap beberapa gagasan dari tulisan tersebut.